Gianni Infantino Bantah Isu Resign, Klaim Dukungan Mayoritas

Author:

Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa ia masih mendapat dukungan dari “mayoritas yang sangat besar” sepak bola dunia. Ia bahkan menertawakan pertanyaan tentang apakah pernah mempertimbangkan mundur dari jabatannya akibat kontroversi rencana penjualan sebagian hak komersial kompetisi FIFA yang dikenal sebagai Fifa Forward Enterprise (FFE). Sikap itu ia sampaikan dalam wawancara langka dengan BBC Sport, di mana ia tampil defensif dan menegaskan posisinya tidak goyah.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena dua bulan sebelumnya Infantino menghadapi desakan mundur yang semakin besar. Para pemimpin UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan Concacaf menandatangani surat yang menuduh Presiden FIFA melanggar kepercayaan “melalui tipu daya”. Kontroversi FFE, yang hanya beberapa hari kemudian dibatalkan Infantino, menjadi pemicu utama ketegangan antara FIFA dan sejumlah konfederasi besar.

Gianni Infantino

Infantino Tegaskan Dukungan Mayoritas dan Bantah Isu Mundur

Dalam wawancara itu, Gianni Infantino mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan pendapat. Menurutnya, perbedaan pandangan adalah hal biasa di banyak negara, tetapi organisasi harus mampu melangkah maju setelah perbedaan itu muncul. Ia menilai FIFA perlu mengelola beragam kepentingan dari 211 asosiasi anggota tanpa kehilangan arah.

Ia juga menepis anggapan bahwa posisinya terisolasi. Infantino mengklaim telah mendapat dukungan penuh dari AFC setelah perubahan sikap Presiden AFC Sheikh Salman, serta dukungan dari “seluruh negara Afrika”. Dukungan itu ia kaitkan dengan perjalanan ke sejumlah negara, termasuk Maroko, Republik Dominika, Cape Verde, dan Jepang, yang dilakukan setelah surat protes dari tiga konfederasi dikirim.

Di sisi lain, Infantino mengakui bahwa FIFA tidak selalu sempurna. Ia mengatakan dirinya dan administrasi FIFA telah berusaha melakukan yang terbaik, tetapi mengakui ada “beberapa hal yang mungkin kurang baik”. Pernyataan ini muncul setelah ia menyampaikan permintaan maaf kepada Dewan FIFA terkait komunikasi dan konsultasi mengenai FFE.

Kronologi Kontroversi FFE dan Desakan Mundur

Kontroversi bermula dari proposal Fifa Forward Enterprise (FFE). Dalam skema itu, sebagian hak komersial kompetisi yang dijalankan badan pengatur sepak bola dunia akan dijual kepada perusahaan investasi swasta. Rencana tersebut memicu kekhawatiran tentang tata kelola, transparansi, dan masa depan pendapatan FIFA, meskipun Infantino membatalkannya dalam beberapa hari.

Ketegangan meningkat setelah UEFA meminta FIFA merilis seluruh dokumen penting terkait FFE paling lambat 2 November. Sekretaris Jenderal UEFA Theodore Theodoridis menilai organisasi itu gagal menjawab “sejumlah pertanyaan mendasar”. Permintaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan bukan hanya soal substansi FFE, tetapi juga soal kepercayaan terhadap cara FIFA mengambil keputusan.

Saat diminta menjelaskan kapan dokumen akan diberikan, Infantino tidak memberi jawaban tegas. Ia hanya menyatakan bahwa prosesnya harus mengikuti “proses hukum” dan bahwa FIFA sedang mengerjakannya. Ia menambahkan bahwa semua pertanyaan akan dijawab sejauh proses dan kemampuan memungkinkan, tetapi tidak merinci tenggat atau isi dokumen yang dimaksud. Dalam pertemuan dengan Dewan FIFA, sejumlah anggota bahkan menyatakan bahwa ia tidak “layak menjadi presiden FIFA” jika tidak menyerahkan dokumen yang diminta, termasuk alasan di balik FFE.

Dampak bagi Posisi Gianni Infantino dan Pemilihan Presiden FIFA

Meski tekanan dari sejumlah konfederasi besar masih ada, posisi Gianni Infantino tampak semakin kuat menjelang pemilihan presiden FIFA. Ia telah mengusulkan penambahan dana untuk pengembangan sepak bola di seluruh dunia sebesar 3,4 miliar dolar AS, atau sekitar 2,6 miliar poundsterling. Janji peningkatan dana itu menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat dukungan dari asosiasi anggota, terutama negara-negara yang bergantung pada bantuan FIFA.

Dukungan dari Asia dan Afrika memberi sinyal bahwa Infantino masih mampu merawat basis suara di luar Eropa. Sikap AFC yang berubah dan dukungan yang ia klaim dari negara-negara Afrika menunjukkan bahwa tekanan UEFA tidak serta-merta melemahkan posisinya. Dalam konteks pemilihan, dukungan dari banyak asosiasi anggota kecil dan menengah sering kali lebih menentukan daripada kritik dari konfederasi besar.

Batas waktu bagi kandidat yang ingin menantang Infantino dalam pemilihan Maret adalah 18 November. Hingga berita ini ditulis, belum ada kandidat lain yang mendaftar, sehingga ia berpotensi maju tanpa lawan. Jika tidak ada penantang, posisi Infantino untuk periode keempat akan semakin sulit digoyahkan, meskipun kritik terkait transparansi dan tata kelola FIFA belum sepenuhnya mereda.

Dukungan Asia-Afrika dan Konteks Lebih Luas

Dalam wawancara itu, Infantino juga menyoroti dukungan yang ia terima dari AFC dan negara-negara Afrika. Ia mengatakan baru kembali dari Tokyo, tempat AFC menyatakan dukungan penuh, dan dari Cape Verde, tempat negara-negara Afrika menyatakan dukungan. Menurutnya, ia terus berkomunikasi dengan asosiasi di berbagai belahan dunia untuk menjaga hubungan dan mendengar pandangan mereka.

Ia menegaskan bahwa dalam organisasi seperti FIFA selalu ada perbedaan pandangan. Namun, ia meminta semua pihak menghormati proses demokrasi dan prinsip bahwa setiap asosiasi anggota memiliki suara yang sama. Ia juga menekankan bahwa sepak bola milik semua orang, sehingga pandangan mayoritas harus dihormati, bukan hanya suara kelompok yang paling vokal.

Meski demikian, Infantino mengakui hubungan dengan UEFA perlu diperbaiki. Ia mengatakan FIFA dan UEFA perlu berdialog “lebih sering” untuk mencairkan ketegangan. Pernyataan itu menunjukkan bahwa di balik klaim dukungan mayoritas, masih ada pekerjaan rumah diplomatik yang harus diselesaikan agar konflik internal tidak berlarut-larut.

Piala Dunia U-15 di Azerbaijan dan Sinyal Masa Depan

Wawancara itu dilakukan dari Piala Dunia U-15 FIFA di Azerbaijan, yang digelar di Baku dan diikuti tim dari 189 asosiasi anggota. Turnamen ini mempertemukan sejumlah negara besar seperti Inggris, Spanyol, Prancis, Argentina, dan Brasil. Rusia juga mengirim tim, menandai penampilan pertama negara itu di turnamen berlisensi FIFA sejak FIFA dan UEFA menangguhkan tim Rusia dari kompetisi internasional pada Februari 2022 setelah invasi ke Ukraina.

Turnamen edisi ini hanya untuk putra, sementara edisi tahun depan direncanakan hanya untuk putri. Mulai 2028, FIFA berencana menggelar turnamen tahunan yang mempertemukan tim putra dan putri. Format pertandingan menggunakan 8 lawan 8 di lapangan lebih kecil dengan dua babak masing-masing 20 menit, sebuah pendekatan yang berbeda dari kompetisi usia muda konvensional.

Infantino menilai turnamen ini sebagai cara membawa dunia bersama sejak usia dini. Ia membayangkan para pemain yang tampil sekarang akan mengingat bahwa Piala Dunia pertama mereka digelar di Azerbaijan. Pernyataan itu sekaligus menjadi upaya FIFA menampilkan sisi positif di tengah tekanan terkait tata kelola dan transparansi organisasi.

Secara keseluruhan, Gianni Infantino keluar dari wawancara tersebut dengan pesan bahwa ia masih memiliki legitimasi dari mayoritas asosiasi anggota. Ia membantah isu mundur, mengakui adanya kekurangan dalam komunikasi, tetapi menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan asosiasi anggota. Klaim dukungan dari Asia dan Afrika menjadi tameng politiknya di tengah kritik UEFA dan sejumlah konfederasi.

Namun, kontroversi FFE belum sepenuhnya selesai karena dokumen yang diminta UEFA dan Dewan FIFA belum jelas kapan akan dirilis. Dengan tenggat pencalonan 18 November dan pemilihan pada Maret, posisi Infantino tampak kuat, tetapi tekanan untuk transparansi akan terus menguji kredibilitasnya. Bagi pembaca, dinamika ini menunjukkan bahwa politik sepak bola dunia tidak hanya soal pertandingan, tetapi juga soal tata kelola, dukungan suara, dan kemampuan menjaga kepercayaan antaranggota.