Performa Bruno Fernandes menjadi sorotan tajam hanya tujuh pekan setelah ia berdiri di Manchester Opera House dan berbicara tentang kebanggaannya menerima penghargaan PFA Player of the Year 2025-26. Kapten Manchester United itu kini justru dikaitkan dengan start buruk timnya di Premier League, yang baru mengumpulkan enam poin dari enam pertandingan. Hasil itu menjadi awal musim terburuk United di kompetisi liga dalam 40 tahun terakhir, periode ketika Ron Atkinson akhirnya didepak untuk memberi jalan bagi Sir Alex Ferguson.
Kontrasnya sangat terasa karena musim lalu Fernandes adalah motor utama United. Ia mencetak sembilan gol dan 21 assist, memecahkan rekor Premier League yang sebelumnya dipegang bersama oleh Thierry Henry dan Kevin de Bruyne. Atas kontribusi itu, United finis di posisi ketiga dan kembali ke kompetisi antarklub paling elite di Eropa setelah dua tahun absen. Pertanyaannya kini: apakah penurunan performa Bruno Fernandes adalah penyebab kemunduran United, atau justru gejala dari persoalan yang lebih dalam?

Statistik Performa Bruno Fernandes Musim Ini
Fernandes telah memainkan setiap menit dari enam laga Premier League musim ini. Namun kontribusinya baru tiga gol dan satu assist, dan semuanya tercipta dalam satu pertandingan yang sama, yaitu melawan Ipswich pada pekan kedua. Sampai sekarang, laga itu juga masih menjadi satu-satunya kemenangan United di liga.
Angka tersebut sebenarnya lebih baik dibanding awal musim lalu, ketika ia hanya mencetak dua gol dan tidak menyumbang satu pun assist dalam enam pertandingan pertama. Bedanya, saat itu Fernandes dimainkan pada peran gelandang yang lebih dalam, sesuai skema yang disukai Ruben Amorim. Artinya, posisi bermainnya kini berbeda, tetapi produktivitasnya tidak ikut meningkat.
Jika ditelusuri lebih dalam, persoalannya mulai tampak jelas. Rata-rata tembakan Fernandes musim ini mencapai 3,3 per pertandingan, tertinggi kedua sepanjang kariernya setelah 3,5 pada 2020-21. Akan tetapi, rata-rata tembakan tepat sasaran hanya 0,8 per laga, salah satu yang terendah dalam periode yang sama.
Penciptaan peluangnya pun menurun ke angka 2,5 per pertandingan, terendah kedua selama ia berkarier di Old Trafford dan turun cukup jauh dari 4,0 musim lalu. Yang paling mencolok, ia baru menciptakan satu “peluang besar” sepanjang musim ini, yakni umpan lambung yang melepas Bryan Mbeumo berlari bebas dari pertahanan Ipswich pada 30 Agustus. Musim lalu, rata-ratanya mencapai satu peluang besar per pertandingan.
Kilas Balik Musim Gemilang 2025-26
Untuk memahami besarnya penurunan ini, penting melihat betapa dominannya Fernandes pada musim lalu. Selain menyabet gelar PFA Player of the Year, ia juga meraih penghargaan versi Premier League dan Football Writers’ Association. Pengakuan itu datang karena perannya yang luar biasa dalam membawa United finis di posisi ketiga, jauh melampaui ekspektasi banyak orang.
Pada 11 pertandingan terakhir musim lalu, United mencetak 21 gol. Fernandes sendiri mencetak atau menciptakan 12 di antaranya. Kemudian, dalam rentang tujuh laga yang mengantar United kembali ke kompetisi elite Eropa, pemain berusia 31 tahun itu terlibat dalam sembilan dari 12 gol timnya.
Secara statistik, capaian tersebut mengingatkan pada era Eric Cantona pada musim juara 1995-96, ketika sang striker mencetak gol dalam enam pertandingan berturut-turut, lima di antaranya terjadi saat United hanya mencetak satu gol. Fernandes sendiri menyebut musim itu sebagai periode istimewa baginya, sambil menegaskan bahwa sepak bola bukan olahraga individual. “Kami tidak bermain tenis. Kami tidak bermain hanya untuk diri sendiri. Kami bermain untuk tim, untuk klub, untuk para penggemar. Tidak ada yang lebih istimewa dari itu,” ujarnya kala itu.
Kebugaran dan Sinyal dari Timnas Portugal
Satu hal yang perlu dicermati adalah kondisi fisik Fernandes. Ia dikenal jarang absen, tetapi baru-baru ini ia tidak dimasukkan dalam laga Nations League melawan Norwegia. Pelatih tim nasional Portugal, Jorge Jesus, menyatakan bahwa mantan pemain Sporting tersebut sedang “bermain sambil menahan rasa sakit”.
Meski begitu, Fernandes tetap kembali memperkuat Portugal pada dua pertandingan internasional terakhir di jeda yang diperpanjang itu. Sebelumnya, ia juga menyelesaikan 90 menit penuh saat United menang 4-0 atas juara Azerbaijan, Sabah FK, di Liga Champions.
Manajer Manchester United, Michael Carrick, tidak menganggap hal itu sebagai masalah besar menjelang laga melawan Atletico Madrid pada Selasa. Ia menilai Fernandes hanya membawa cedera ringan yang lazim dialami pemain. “Dia membawa sesuatu, tapi itu sering terjadi. Pemain bermain dengan keluhan. Itu tidak ideal, tetapi masih bisa dikelola. Bruno mampu bermain, dan itulah komitmen yang dia miliki,” kata Carrick. Ia menambahkan bahwa Fernandes hampir pulih sepenuhnya, tampil cerah dalam sesi latihan pagi, dan sudah tidak sabar menantikan pertandingan.
Absennya Sesko dan Casemiro yang Sangat Terasa
Pada akhir musim lalu, ketika kontribusi Fernandes sedang berada di puncak, Benjamin Sesko rutin mengisi posisi nomor sembilan, sementara Casemiro menjadi jangkar di lini tengah. Dari sembilan gol liga yang dicetak Sesko sepanjang 2026, empat di antaranya lahir dari umpan Fernandes. Fernandes juga menciptakan empat dari lima gol terakhir yang dicetak Casemiro sebagai pemain Manchester United sejak 1 Februari.
Selain soal gol, kehadiran kedua pemain itu jelas dirindukan. Penggemar terbesar Casemiro pun tidak bisa mengklaim bahwa rendahnya statistik lari United saat ini murni karena sang gelandang berusia 34 tahun hengkang ke Inter Miami pada musim panas. Namun, posisi dan pengetahuan permainannya tetap berada di level tinggi, sehingga Fernandes bisa mengambil risiko dengan keyakinan timnya tidak akan kebobolan saat transisi bila ia kehilangan bola.
Adapun Sesko, cedera tulang kering yang baru dialaminya memperpanjang ketidakhadiran yang dampaknya sangat terasa, dan sampai sekarang belum ada tanggal pasti kapan ia kembali. Manajemen klub mengabaikan desakan untuk mendatangkan tambahan penyerang pada musim panas dan memilih memperkuat lini tengah Carrick.
Rencana menutup absennya pemain Slovenia itu dengan memakai Mbeumo sebagai nomor sembilan harus dibatalkan setelah Amad Diallo mengalami cedera pergelangan kaki tepat sebelum laga pembuka di Hull. Matheus Cunha kemudian diberi tugas tersebut, tetapi ia berkali-kali turun ke dalam, tepat ke ruang yang ditempati Fernandes, dan keduanya tidak pernah menemukan cara efektif untuk mengatasi situasi itu.
Sebab atau Gejala Krisis United?
Bagi Fernandes, situasi ini terasa membatasi ruang geraknya. Ia bukan pemain yang kekurangan kepercayaan diri, tetapi pengambilan keputusannya tampak ikut terpengaruh. Bukti paling gamblang muncul saat melawan Tottenham akhir pekan lalu, ketika Fernandes butuh 23 menit hanya untuk menyelesaikan satu umpan.
Pertanyaan apakah ia penyebab atau gejala sebenarnya tidak punya jawaban tunggal. Di satu sisi, turunnya angka penciptaan peluang dan peluang besar membuat serangan United kehilangan ketajaman, dan itu berdampak langsung pada hasil. Di sisi lain, perubahan peran, masalah kebugaran, serta hilangnya dua rekan kunci di lini depan dan tengah menciptakan kondisi yang membuat hampir mustahil bagi seorang playmaker untuk tampil konsisten.
Carrick menegaskan pada Senin bahwa tidak ada pemain yang “dijamin” mendapat tempat di timnya. Namun ia menyertakan cukup banyak catatan tambahan yang mengindikasikan bahwa mencoret sang kapten bukan bagian dari pertimbangannya. Dengan situasi United yang menuntut perbaikan cepat, Fernandes juga harus segera menemukan kembali performa terbaiknya.
Tekanan dan Apa yang Menanti Berikutnya
Laga melawan Atletico Madrid di Liga Champions menjadi ujian berat berikutnya bagi United dan Fernandes. Pertandingan sekelas itu menuntut efisiensi dalam penguasaan bola dan ketepatan dalam mengambil keputusan, dua hal yang justru sedang bermasalah pada diri kapten United saat ini.
Yang menarik, masalah serupa pernah terjadi pada awal musim lalu. Fernandes saat itu juga kesulitan mencetak gol dan menciptakan peluang, sebelum akhirnya meledak dan menjadi salah satu pemain terbaik di liga. Artinya, catatan enam pertandingan pertama bukanlah gambaran akhir, melainkan potret sementara dari tim yang masih mencari keseimbangan.
Bedanya, kali ini tekanan datang lebih besar karena ekspektasi jauh lebih tinggi setelah musim gemilang. United tidak hanya butuh Fernandes kembali produktif, tetapi juga butuh struktur permainan yang memberinya ruang untuk kreatif. Selama lini depan belum menemukan solusi pengganti Sesko dan lini tengah belum punya sosok sekompeten Casemiro, performa Fernandes akan terus menjadi cermin dari kondisi tim secara keseluruhan.
Carrick sendiri tetap yakin anak asuhnya akan bangkit. “Dia pemain top, Bruno. Kadang-kadang sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan. Kadang Anda mengalami periode seperti itu. Tapi dia sudah melakukan hal-hal luar biasa untuk klub ini dan akan melakukannya lagi di masa depan, tidak ada keraguan soal itu,” ujarnya.
Kesimpulan
Penurunan performa Bruno Fernandes musim ini adalah kombinasi dari berbagai faktor: perubahan peran, kondisi fisik yang belum sepenuhnya pulih, serta hilangnya Sesko dan Casemiro sebagai titik rujukan permainan. Angka tiga gol dan satu assist dari enam laga memang jauh dari standar sang pemegang PFA Player of the Year, tetapi semuanya tercipta di satu pertandingan, yang menunjukkan masalahnya lebih pada konsistensi tim ketimbang kemampuan individu semata.
Pada akhirnya, Fernandes lebih tepat disebut sebagai gejala sekaligus bagian dari solusi. United baru mengumpulkan enam poin dari enam laga, dan untuk memperbaikinya, Carrick perlu membangun kembali struktur permainan yang membuat kaptennya bisa berperan maksimal. Dengan laga-laga besar seperti melawan Atletico Madrid di depan mata, waktu untuk membenahi diri tidaklah panjang.