Tekanan Michael Carrick sebagai manajer Manchester United kembali meningkat setelah timnya gagal mengalahkan lawan yang bermain dengan sepuluh orang. Kegagalan kedua secara beruntun di kandang sendiri di ajang Premier League ini menjadi pukulan terbaru bagi Carrick. Sorotan tajam kini mengarah ke masa depannya di Old Trafford, seiring deretan hasil buruk yang terus berlanjut.
Hasil imbang dramatis melawan Tottenham Hotspur di Old Trafford menambah panjang daftar hasil buruk yang membuat United baru mengumpulkan enam poin dari enam pertandingan pembuka liga. Situasi ini menghidupkan kembali memori kelam dua musim terakhir, ketika Erik ten Hag dan Ruben Amorim harus kehilangan pekerjaan mereka setelah rangkaian hasil buruk di awal musim. Kini, pertanyaannya adalah apakah Carrick akan mengalami nasib serupa.

Jalannya Laga Melawan Tottenham Hotspur
United sebenarnya memulai laga dengan cukup baik dan berhasil unggul lebih dulu melalui gol Bryan Mbeumo. Namun hanya berselang lima menit setelah gol tersebut, Rodrigo Bentancur dari Tottenham melakukan pelanggaran kasar dengan menanduk Luke Shaw. Bentancur pun diusir dari lapangan, dan Spurs harus bermain dengan sepuluh orang untuk sisa pertandingan.
Dalam kondisi jumlah pemain yang tidak seimbang, Tottenham justru tampil lebih gigih dan tetap mengancam. Tim asuhan Carrick gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dan tampak kesulitan mengendalikan jalannya pertandingan. Spurs yang sebelumnya nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencetak gol akhirnya berhasil menyamakan kedudukan di masa injury time.
Dominic Solanke memenangkan duel fisik melawan bek tengah Lisandro Martinez dengan terlalu mudah, sementara kiper Senne Lammens gagal membaca arah bola yang meluncur halus ke sudut jauh gawang. Ekspresi para pemain United seusai gol tersebut menggambarkan betapa dalam kekecewaan yang mereka rasakan. “Sebuah hari yang mengkhawatirkan bagi Michael Carrick,” ujar mantan kapten United, Gary Neville, di Sky Sports, merangkum suasana yang tengah menyelimuti klub.
Tekanan Michael Carrick Meningkat di Tengah Rekor Buruk
Sejumlah statistik memperlihatkan betapa serius situasi yang dihadapi Manchester United saat ini. Tim ini baru mengumpulkan enam poin dari enam pertandingan pembuka Premier League, capaian terburuk pada fase tersebut sejak musim 1986-87 ketika United hanya mengoleksi empat poin di bawah asuhan Ron Atkinson. Rekor itu menjadi pertanda buruk bagi Carrick, yang harus segera menemukan solusi sebelum tekanan semakin tidak terkendali.
Dari enam laga Premier League musim ini, United gagal menang sebanyak lima kali, dengan rincian tiga imbang dan dua kalah. Jumlah itu sudah menyamai total kegagalan menang yang dialami tim sepanjang 17 pertandingan liga musim lalu di bawah Carrick, ketika mereka mencatat 12 kemenangan, tiga imbang, dan dua kekalahan. Artinya, performa awal musim ini jauh lebih buruk dibandingkan paruh akhir musim sebelumnya.
Lebih memprihatinkan lagi, dua poin terakhir yang diraih United justru datang dari dua laga melawan tim yang memulai pertandingan di dasar klasemen Premier League. Secara perolehan poin, United kini lebih dekat ke zona degradasi dibandingkan ke area Liga Champions. Tim ini juga sedang menjalani empat pertandingan liga tanpa kemenangan.
Pola tekanan terhadap Carrick mengingatkan pada apa yang terjadi dalam beberapa musim terakhir. Dua musim lalu, hanya dua kemenangan dalam sembilan laga di semua kompetisi membuat Erik ten Hag berada di bawah tekanan berat sebelum akhirnya diberhentikan setelah kekalahan dari West Ham pada 27 Oktober. Musim lalu, kekalahan mengejutkan dari tim League Two, Grimsby, di Piala EFL serta kekalahan 3-1 dari Brentford pada 27 September menggerus kepercayaan terhadap Ruben Amorim, yang kemudian dipecat pada 5 Januari.
Kritik Analis: Kelelahan dan Lini Tengah Kehilangan Kendali
Kritik terhadap performa United juga datang dari kalangan analis. Mantan kapten Tottenham, Jamie Redknapp, menyoroti masalah fisik yang terus berulang di setiap pertandingan. Menurutnya, data menunjukkan bahwa United selalu kalah dalam hal jarak tempuh dibandingkan lawannya, dan hal itu berdampak besar pada hasil akhir.
Redknapp mencatat bahwa Tottenham berlari lima kilometer lebih jauh daripada Manchester United, meskipun Spurs bermain dengan sepuluh orang. “Statistik tidak berbohong ketika setiap kali tim lawan berlari lebih banyak dari Anda,” ujarnya di Sky Sports. Ia menegaskan bahwa kemenangan dalam duel fisik adalah kunci untuk memenangkan pertandingan, dan itulah yang saat ini hilang dari United.
Sementara itu, mantan gelandang Tottenham, Danny Murphy, dalam BBC Match of the Day menyebut ada kelesuan dalam permainan Manchester United. Menurutnya, lini tengah United tidak mampu mengendalikan jalannya pertandingan, dan masalah ini bersumber dari taktik sekaligus komposisi pemain yang digunakan. Ia menilai, United terlihat jauh lebih terorganisir dan lebih sulit dihadapi pada akhir musim lalu.
Murphy juga menyoroti besarnya ruang yang ditinggalkan lini tengah United, yang menurutnya sangat mencolok. Ia berpendapat bahwa jika United menghadapi lawan yang lebih kompeten, mereka akan mengalami kekalahan yang lebih telak. “Bermain seperti itu melawan tim bagus dan mereka akan dibelah lebar-lebar,” tambahnya.
Kepercayaan Fans yang Mulai Terkikis
Reaksi suporter di Old Trafford menunjukkan bahwa sebagian dari mereka mulai kehilangan kepercayaan terhadap tim dan manajer. Selain suara cemoohan yang terdengar di akhir setiap babak, terdapat sejumlah momen selama pertandingan yang memperlihatkan ketegangan antara pemain dan tribun penonton. Situasi ini menandakan bahwa kesabaran publik United sedang diuji.
Penyerang Matheus Cunha, salah satu pemain yang belum mampu mengulang performa apiknya di paruh kedua musim lalu, terlihat membuat gestur ke arah penonton pada paruh awal pertandingan. Tidak jelas apakah ia sedang merespons komentar negatif atau meminta dukungan yang lebih nyaring, tetapi pemain asal Brasil itu jelas tampak tidak senang. Momen tersebut menambah kesan bahwa hubungan antara tim dan suporter sedang tidak harmonis.
Yang perlu dicatat, keluarga Carrick merupakan pemegang tiket musiman, sehingga ia memahami betul bagaimana rasanya menyaksikan United berjuang di Old Trafford dari sudut pandang seorang suporter. “Tentu saja itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Tidak menyenangkan untuk dilalui. Saya peduli pada tempat ini sama seperti siapa pun,” ujarnya. “Kadang bisa dibilang terlalu besar sampai meluap, tetapi semua itu benar-benar datang dari tempat yang baik, jadi saya memahaminya.”
Pembelaan Carrick dan Jadwal Berat Menanti
Meski berada di bawah tekanan, Carrick tetap tampil tenang di hadapan publik dan tidak berusaha menghindari kenyataan. Ia mengakui bahwa dirinya tidak senang dengan jumlah poin yang telah diraih sejauh ini. “Saya tidak bersembunyi, tidak ada yang perlu disembunyikan. Mungkin hasilnya bisa berbeda karena beberapa hal kecil di sana-sini, tetapi kenyataannya adalah kenyataan, dan kami harus menerimanya,” kata Carrick.
Carrick menjelaskan bahwa “hal-hal kecil” yang ia maksud mencakup cara timnya bertahan saat gol Solanke tercipta, kurangnya tekanan terhadap Ainsley Maitland-Niles dari Everton ketika ia mencetak gol penyama kedudukan di masa injury time pada 6 September, serta gol bunuh diri Lisandro Martinez yang sebenarnya bisa dicegah dan hampir memberikan kemenangan bagi Fulham di Craven Cottage sebelum jeda internasional. Menurut Carrick, timnya perlu lebih cerdik dan lebih kuat dalam menjaga hasil. “Kami harus lebih lihai dalam momen-momen tertentu, lebih keras kepala, dan lebih kuat dalam menuntaskan hal-hal tertentu,” tambahnya.
Carrick menegaskan bahwa semua ini tidak mengubah keyakinannya terhadap para pemain. “Kami tim yang benar-benar bagus dan mampu menjadi tim yang benar-benar bagus, tetapi kami jelas harus mulai mengumpulkan lebih banyak poin,” ujarnya. Ia juga membantah anggapan bahwa para pemainnya telah mengecewakannya. “Saya tidak merasa dikecewakan. Kalian bisa membuat kesalahan. Kami semua punya standar. Para pemain mengakui kesalahan mereka, dan yang perlu kami lakukan adalah saling membantu untuk menjadi lebih baik,” katanya.
Jadwal yang menanti United tidak akan mudah. Akhir pekan mendatang mereka harus bertandang ke Elland Road untuk menghadapi rival lama, Leeds United, pada 18 Oktober, sebuah laga yang selalu berlangsung ketat. Sebelum dan sesudah laga tersebut, United juga harus melakoni laga tandang berat di Liga Champions melawan Atletico Madrid dan Como. Rangkaian pertandingan ini bisa menjadi penentu apakah Carrick mampu bertahan atau justru mengikuti jejak para pendahulunya.
Kesimpulan
Kegagalan Manchester United mengalahkan tim dengan sepuluh pemain untuk kedua kalinya secara beruntun telah menempatkan Michael