Arsenal mungkin baru saja menelan kekalahan terbesar mereka dalam tiga tahun, tetapi berdasarkan data xG Premier League, mereka tetap menjadi tim terbaik sejauh ini. Selisih expected goals (xG) skuad asuhan Mikel Arteta masih yang paling tinggi di seluruh liga, dengan Manchester City tak jauh tertinggal di belakangnya. Artinya, dominasi permainan kedua tim belum benar-benar goyah meski hasil di lapangan kadang bercerita berbeda.
Angka-angka semacam ini penting karena klasemen awal musim kerap menipu. Pada jumlah pertandingan yang sama musim lalu, Liverpool memuncaki tabel dengan lima kemenangan dari lima laga dan Tottenham berada di posisi ketiga; keduanya justru mengakhiri musim di peringkat kelima dan ke-17. Dengan sampel pertandingan yang masih sedikit, plus fakta bahwa sebagian tim mendapat jadwal yang lebih berat daripada yang lain, data dasar seperti xG menawarkan gambaran yang lebih jujur soal ke mana musim ini akan bergerak.
Apa Itu xG dan Kenapa Klasemen Awal Belum Bisa Dipercaya
Expected goals adalah metrik yang mengukur seberapa besar sebuah tim mendominasi pertandingan, dilihat dari jumlah sekaligus kualitas tembakan yang mereka ciptakan maupun hadapi. Sederhananya, xG menilai performa umum sebuah tim sebelum faktor penyelesaian akhir, penjagaan gawang, dan keberuntungan ikut bermain. Karena itu, metrik ini sering dipakai untuk memisahkan penampilan nyata dari hasil yang sebenarnya hanya kebetulan semata.
Sejarah Premier League menunjukkan pola yang cukup konsisten: semakin sering sebuah tim mendominasi jalannya pertandingan, semakin banyak poin yang mereka kumpulkan dalam jangka panjang. Pola itulah yang membuat xG relevan untuk dibaca lebih awal, bahkan ketika tabel klasemen belum menunjukkan hal yang sama. Sebuah tim bisa saja tertahan di papan tengah sekarang, tetapi secara performa sebenarnya sudah bermain seperti tim papan atas.
Ada satu catatan penting dalam membaca data ini, yaitu penalti sebaiknya dikeluarkan dari perhitungan. Keputusan wasit dan kelengahan lini belakang bisa memberi kesan palsu soal seberapa baik sebuah tim menyerang atau bertahan. Pengecualian itu terasa makin penting pada fase awal musim, ketika jumlah pertandingan masih terlalu sedikit untuk menetralkan pengaruh satu-dua momen aneh.
Tim Paling Dominan Menurut xG Premier League
Arsenal menelan kekalahan terbesar mereka dalam tiga tahun saat bertandang ke Brighton pada akhir pekan lalu, tetapi secara keseluruhan mereka tetap tim terbaik berdasarkan selisih xG. Hasil buruk dalam satu laga memang menyakitkan, namun tidak serta-merta menghapus bukti dominasi yang mereka bangun di pertandingan-pertandingan sebelumnya. Inilah alasan mengapa selisih xG lebih menggambarkan kualitas performa ketimbang satu skor akhir yang mencolok.
Manchester City yang memimpin klasemen tidak jauh tertinggal dari Arsenal dalam hal seberapa besar mereka menguasai pertandingan. Brentford juga patut mendapat perhatian karena start impresif mereka sebagai tim yang belum terkalahkan sama sekali bukan keberuntungan. Dua tim ini menunjukkan bahwa konsistensi dominasi bisa berjalan seiring dengan hasil positif di lapangan.
Manchester United tampak terus berayun antara penampilan menjanjikan dan mengecewakan, padahal sering kali mereka hanya bermain biasa saja. Terlepas dari start yang kurang meyakinkan, hanya tiga tim yang memiliki selisih xG lebih tinggi daripada mereka sejauh ini. Nottingham Forest dan Bournemouth juga tampil lebih baik daripada yang terlihat dari posisi mereka di tabel klasemen sementara.
Di ujung lain, Aston Villa, Crystal Palace, dan Newcastle menjadi tim yang paling kurang meyakinkan secara performa keseluruhan. Newcastle mungkin yang paling mengejutkan, mengingat posisi mereka saat ini ada di paruh atas klasemen. Musim masih panjang sehingga belum ada alasan untuk panik, tetapi data ini memperlihatkan bahwa ketiga tim punya ruang perbaikan yang luas, seperti yang dibuktikan Villa musim lalu ketika finis keempat setelah start yang lambat.
Lini Serang Terbaik: Brighton Memimpin, Newcastle Paling Efisien
Jika menengok angka menyerang, Brighton punya serangan terbaik sejauh ini berdasarkan jumlah dan kualitas peluang yang mereka hasilkan. Di belakang mereka menyusul Manchester City, Brentford, dan Manchester United dalam urutan yang mencerminkan ketajaman lini depan masing-masing. Posisi itu menegaskan bahwa Brighton bukan hanya menang karena faktor keberuntungan.
Meski Arsenal lebih dikenal karena kekuatan pertahanannya, cukup mengejutkan bahwa ada delapan tim yang mencatatkan xG lebih tinggi daripada sang juara bertahan. Liverpool dan Chelsea pun belum menembus jajaran atas dan masih berada di papan tengah. Situasi ini menunjukkan bahwa reputasi besar tidak otomatis diiringi produktivitas serangan yang setara di awal musim.
Brighton tidak hanya unggul dalam xG, tetapi juga menjadi salah satu tim paling kejam di depan gawang dengan 15 gol non-penalti dari xG 10,7. Satu-satunya tim yang lebih klinis adalah kerabat berbulu mereka, Newcastle, yang justru memiliki xG terendah di liga sejauh ini. Newcastle mencetak 9 gol dari xG 4,5, atau dua kali lipat dari yang biasanya dihasilkan tim dengan peluang sebanyak itu, dan pelatih kepala Matthias Jaissle tentu ingin timnya menciptakan lebih banyak peluang alih-alih bergantung pada penyelesaian akhir setajam itu.
Sebaliknya, Coventry, Sunderland, Nottingham Forest, dan Tottenham mencetak tiga gol lebih sedikit dari yang seharusnya mereka dapatkan berdasarkan peluang di lima laga pertama. Menarik untuk ditunggu apakah ini benar-benar masalah penyelesaian akhir atau sekadar keberuntungan yang akan berbalik pada laga-laga berikutnya. Perbedaannya akan sangat menentukan posisi keempat tim tersebut dalam beberapa pekan ke depan.
Lini Belakang: Arsenal Terkuat, Klub Ibu Kota Perlu Berbenah
Seperti disebutkan sebelumnya, Arsenal punya reputasi besar berkat pertahanannya dan mereka masih memiliki lini belakang terbaik di liga, bahkan setelah kekalahan telak dari Brighton ikut dihitung. Kekuatan itu menjadi fondasi yang membuat mereka tetap diperhitungkan sebagai kandidat utama, apa pun hasil buruk yang sempat mereka alami. Tanpa pertahanan sekuat ini, posisi Arsenal di perhitungan selisih xG akan jauh berbeda.
Sementara pelatih kepala Forest, Oliver Glasner, masih memiliki pekerjaan rumah untuk membuat timnya mencetak gol, ia sudah menanamkan fondasi yang kokoh di lini belakang. Hal serupa dilakukan Andoni Iraola di Liverpool yang juga membangun pertahanan cukup solid. Keduanya punya modal yang bisa dikembangkan menjadi hasil lebih baik jika lini depan mulai menemukan ritmenya.
Sebaliknya, masih banyak pekerjaan konstruksi yang dibutuhkan di ibu kota karena Crystal Palace, Fulham, dan Chelsea tampil terlalu terbuka di lini belakang sepanjang musim ini. Meski begitu, tim asuhan Xabi Alonso tidak seburuk kesan yang muncul dari 12 gol yang mereka kebobolan. Angka itu lebih mencerminkan nasib buruk daripada kelemahan struktural yang serius.
Kehebatan Brighton di lini depan ternyata berbanding lurus dengan pertahanan yang tidak terlalu padat, dan tim asuhan Fabian Hurzeler mungkin sedikit beruntung karena tidak kebobolan lebih sering. Everton dan Leeds juga mencatat kebobolan tiga gol lebih sedikit dari ekspektasi berdasarkan peluang yang mereka hadapi. Kedua tim itu bahkan termasuk yang paling kuat secara pertahanan di liga sejauh ini.
Tim Promosi dan Gambaran Musim ke Depan
Yang cukup mengkhawatirkan bagi tim-tim mapan adalah penampilan tim promosi yang tampaknya tidak akan turun kasta tanpa perlawanan sengit. Hull dan Ipswich sama-sama membuat start yang benar-benar solid pada kampanye kali ini. Jika tren itu berlanjut, persaingan di papan bawah akan jauh lebih ketat daripada yang diperkirakan banyak orang.
Baru lima pertandingan berjalan, sehingga terlalu dini untuk menarik kesimpulan pasti soal bagaimana setiap tim akan tampil hingga akhir musim. Namun angka-angka dasar yang mereka hasilkan sudah memberi gambaran tentang apa yang mungkin tersaji beberapa bulan ke depan. Pembacaan data seperti ini membantu membedakan tim yang sedang beruntung dari tim yang benar-benar bermain baik.
Secara ringkas, xG Premier League memperlihatkan bahwa Arsenal dan Manchester City masih menjadi dua tim paling dominan, dengan Brentford sebagai kejutan yang pantas diperhitungkan. Brighton memimpin urusan menyerang, Newcastle tampil luar biasa efisien meski peluangnya minim, sementara Villa, Palace, dan Newcastle justru perlu segera membenahi performa keseluruhan mereka. Nama-nama besar seperti Liverpool dan Chelsea juga belum menunjukkan dominasi yang sepadan dengan reputasinya.
Karena semuanya masih berjalan lima pekan, tabel klasemen sebaiknya dibaca dengan kepala dingin dan data dasar dijadikan kacamata tambahan. Sejarah menunjukkan bahwa dominasi permainan cenderung berbuah poin dalam jangka panjang, jadi perubahan besar di klasemen masih sangat mungkin terjadi. Menarik untuk mengikuti apakah tim-tim yang tampil apik secara angka mampu mempertahankannya sampai musim benar-benar matang.
