Uefa dan Concacaf tuntut FIFA membayarkan setidaknya 10 juta dolar AS (sekitar £7,5 juta) dari cadangan kasnya kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota. Desakan itu disampaikan lewat surat resmi yang dialamatkan kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, dan menjadi babak terbaru dalam perang pernyataan antara sejumlah induk organisasi sepak bola dunia. Permintaan ini muncul sebagai respons langsung atas proposal ekuitas swasta Infantino yang akhirnya dibatalkan.
Surat tersebut, yang salinannya dilihat BBC Sport, ditandatangani Presiden Uefa Aleksander Ceferin bersama rekannya dari Concacaf, Victor Montagliani. Langkah ini penting karena menyentuh dua hal sekaligus: cara FIFA mengelola cadangan kasnya yang menumpuk, dan tata kelola organisasi menjelang pemilihan presiden pada Maret mendatang. Ketegangan antara FIFA dan konfederasi besar pun kembali mencuat ke permukaan.

Uefa dan Concacaf Tuntut FIFA Bayar 10 Juta Dolar untuk 211 Anggota
Dalam surat itu, kedua konfederasi meminta FIFA menyediakan minimal 10 juta dolar AS untuk setiap asosiasi anggota pada siklus 2027-2030. Dana tersebut, menurut mereka, semestinya dialokasikan untuk investasi infrastruktur dan pengembangan sepak bola. Permintaan itu tidak menggantikan pendanaan rutin yang sudah berjalan, melainkan bersifat tambahan.
Skema ini digambarkan sebagai pelepasan cadangan sekali jalan alias one-off release of reserves. Jika dihitung untuk seluruh 211 asosiasi, kebijakan itu akan menelan biaya sekitar 2,11 miliar dolar AS (setara £1,57 miliar). Angka itu disebut masih berada dalam batas kemampuan FIFA mengingat posisi keuangannya saat ini.
Ceferin dan Montagliani menilai pelepasan sebagian cadangan justru akan memperjelas bahwa asosiasi anggota tidak perlu dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Mereka menekankan bahwa dukungan finansial seharusnya tidak dikaitkan dengan kewajiban menyetujui proposal tertentu. Bagi keduanya, pembangunan sepak bola di tingkat nasional adalah tanggung jawab institusional FIFA, bukan soal kebijakan individual seorang pejabat.
Kronologi Proposal FFE dan Janji 40 Juta Dolar
Akar perselisihan ini adalah FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah rencana yang sempat diumumkan Infantino. Gagasannya adalah membentuk perusahaan baru untuk mengelola hak komersial dan penjualan tiket seluruh kompetisi, termasuk Piala Dunia. Dari perusahaan itu, sebanyak 21 persen saham berencana dijual kepada sebuah perusahaan investasi.
Rencana tersebut hanya bertahan empat hari sebelum akhirnya dibatalkan. Penyebabnya adalah gelombang penolakan yang luas dari asosiasi-asosiasi nasional di berbagai benua. Tekanan itu dinilai terlalu besar untuk diabaikan, sehingga FIFA memutuskan menarik proposalnya.
Saat rencana kontroversial itu dibeberkan beberapa hari setelah final Piala Dunia, Infantino sempat menjanjikan insentif menarik kepada para anggota. Ia menyatakan setiap federasi akan menerima 40 juta dolar AS (sekitar £30 juta) apabila mendukung proposal tersebut. Infantino bahkan menetapkan tenggat 19 September bagi federasi yang ingin mengakses dana awal sebesar 20 juta dolar AS (sekitar £15 juta).
Keraguan atas Urgensi Proposal dan Seruan Audit Independen
Ceferin dan Montagliani mengungkapkan bahwa analisis terhadap laporan keuangan dan anggaran FIFA yang dipublikasikan memunculkan keraguan besar. Menurut mereka, tidak ada bukti kuat bahwa FFE benar-benar “diperlukan untuk menghadirkan sumber daya yang lebih besar”. Analisis itu pun disebut sengaja disusun secara konservatif agar tidak terkesan berlebihan.
Karena itu, keduanya mendorong agar distribusi dana dari cadangan dalam jumlah lebih besar dipertimbangkan oleh Dewan FIFA. Pertimbangan itu baru bisa dilakukan setelah posisi keuangan FIFA pada akhir tahun diketahui secara pasti. Mereka juga meminta agar dilakukan “tinjauan independen” atas keuangan FIFA dengan “akses penuh terhadap angka dan asumsi yang mendasarinya”.
Dalam surat tersebut, mereka menegaskan bahwa FIFA saat ini memegang miliaran dolar dalam cadangan terakumulasi. “Sumber daya ini milik sepak bola dan ada untuk melayani permainan serta 211 asosiasi anggotanya,” demikian bunyi surat itu. Mereka menambahkan bahwa kehati-hatian seharusnya tidak menghalangi pemeriksaan cermat atas kemungkinan melepas sebagian cadangan secara bertanggung jawab, sejauh cadangan itu melebihi kebutuhan FIFA yang bisa diprediksi.
Surat yang sama juga menyoroti bahwa melepas sebagian cadangan akan menunjukkan bahwa asosiasi anggota tidak harus memilih antara pembangunan dan tata kelola yang baik. Menurut penandatangan, mereka juga tidak seharusnya dipaksa memilih antara investasi dan integritas, atau antara dukungan finansial dan kemampuan menilai sebuah proposal secara objektif. “Pembangunan adalah tanggung jawab institusional FIFA, bukan soal diskresi individual,” tegas mereka.
Dampak bagi FIFA dan Peta Politik Sepak Bola Dunia
Permintaan ini menyoroti proyeksi keuangan FIFA yang disebut bakal menutup siklus 2023-2026 dengan cadangan sekitar 6 miliar dolar AS (setara £4,5 miliar). Menurut surat tersebut, jumlah itu “jauh lebih besar dari yang dibutuhkan” hingga Piala Dunia pria 2030. Artinya, ada ruang fiskal yang cukup lebar untuk berbagi keuntungan dengan negara-negara anggota tanpa mengganggu operasional FIFA.
Bagi asosiasi anggota, terutama dari negara berkembang, tawaran 10 juta dolar AS bukan angka kecil. Dana sebesar itu bisa dipakai untuk membangun lapangan, membiayai pembinaan usia muda, atau memperkuat liga domestik. Karena itu, desakan Ceferin dan Montagliani berpotensi mendapat dukungan luas, meski belum tentu seluruh konfederasi sepakat dengan caranya.
Untuk memperkuat posisi mereka, surat kedua juga dikirim kepada presiden konfederasi lain, yakni Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania. Isinya meminta mereka mendukung mosi yang sama. Langkah ini menunjukkan upaya membangun tekanan kolektif dari mayoritas anggota FIFA, bukan sekadar gugatan dua konfederasi besar.
Tekanan Lain: Surat FA hingga Pemilihan Presiden FIFA
Desakan ini datang hanya sehari setelah Ketua Football Association (FA), Debbie Hewitt, melayangkan surat kepada Infantino dan Sekretaris Jenderal FIFA Mattias Grafstrom. Hewitt menuntut agar seluruh dokumen terkait rencana FFE yang kontroversial dibuka ke publik. Permintaan itu menambah daftar tuntutan transparansi yang mengarah ke kantor pusat FIFA.
Sebagai wakil presiden FIFA, Hewitt juga menyampaikan permintaan lain yang tak kalah sensitif. Ia menilai Dewan FIFA semestinya menerima penjelasan tertulis mengenai pembatalan skorsing penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, pada Piala Dunia. Infantino pun diminta menyediakan seluruh dokumen tersebut sebelum rapat Dewan FIFA berikutnya, yang dijadwalkan pada 15 Oktober.
Semua ini terjadi saat Infantino bersiap mencalonkan diri untuk keempat kalinya pada Maret. Pria berusia 56 tahun itu masih menjadi kandidat terkuat, sementara pihak penantang memiliki waktu hingga 18 November untuk mencari calon alternatif. Dinamika ini membuat isu cadangan kas dan transparansi berpotensi menjadi bahan kampanye dalam pemilihan nanti.
Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya
Melihat peta kekuatan saat ini, keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan FIFA dan kongres anggota. Jika analisis keuangan akhir tahun mengonfirmasi besarnya cadangan, tekanan untuk membagikannya akan semakin sulit ditolak. Sebaliknya, FIFA bisa berargumen bahwa cadangan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas jangka panjang organisasi.
Yang jelas, isu ini tidak akan selesai dalam waktu singkat. Tenggat 15 Oktober untuk penyerahan dokumen dan agenda pemilihan pada Maret menjadi dua momen penting yang layak dicermati. Bagaimana FIFA menanggapi surat Uefa dan Concacaf akan menjadi indikator seberapa terbuka organisasi itu terhadap tuntutan transparansi dan pembagian keuntungan yang lebih merata.
Terlepas dari hasilnya, perselisihan ini memperlihatkan pergeseran relasi kekuatan dalam sepak bola dunia. Konfederasi besar kini berani secara terbuka menantang kebijakan presiden FIFA dan menuntut peran lebih besar dalam menentukan arah keuangan organisasi. Dampaknya bisa terasa jauh melampaui siklus 2027-2030.
Pada akhirnya, tuntutan Uefa dan Concacaf untuk membayar 10 juta dolar AS ke setiap asosiasi anggota adalah ujian bagi FIFA: apakah cadangan kas yang menumpuk akan dipakai untuk memperkuat sepak bola di seluruh dunia, atau tetap disimpan sebagai penyangga keuangan. Jawabannya akan menentukan wajah tata kelola sepak bola global dalam beberapa tahun ke depan.