Berita sepakbola

Sunderland Terpuruk di Premier League, Eropa Jadi Penyebab?

Sunderland terpuruk di Premier League setelah hanya meraih satu kemenangan dan menelan enam kekalahan dari sembilan pertandingan, membuat mereka berada di dasar klasemen. Padahal, musim lalu tim ini menjadi salah satu kejutan dengan finis di posisi ketujuh dan kembali ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya setelah 53 tahun. Kini muncul pertanyaan apakah kampanye Europa League yang padat justru menjadi beban bagi performa domestik mereka.

Kamis ini, Sunderland dijadwalkan menjamu juara Kroasia, Dinamo Zagreb, di Stadium of Light pada laga yang berlangsung pukul 20:00 GMT, sebelum menghadapi Chelsea pada Minggu. Jadwal tersebut menjadi ujian berat karena tim juga masih harus bertandang ke AC Milan pada Desember. Menurut informasi BBC Sport, posisi pelatih Regis Le Bris belum berada dalam bahaya langsung, tetapi tekanan jelas semakin besar.

Mengapa Sunderland Terpuruk di Premier League?

Kekalahan 3-1 di markas Coventry City pada akhir pekan lalu memicu reaksi keras dari kapten Granit Xhaka, yang mempertanyakan “keberanian” tim. Beberapa pekan sebelumnya, bek Prancis Nordi Mukiele bahkan menilai Sunderland telah menunjukkan sikap “arogan”. Kritik dari dalam ruang ganti itu memperlihatkan bahwa masalahnya bukan hanya soal hasil, tetapi juga mental dan kepercayaan diri pemain.

Meski begitu, Le Bris masih mendapat waktu untuk membalikkan keadaan. Ia dianggap punya kredit besar karena membawa Sunderland promosi dan kemudian meraih tempat di Eropa. Musim ini, ia juga membawa The Black Cats ke perempat final Carabao Cup, di mana mereka akan menghadapi sesama tim yang kesulitan di Premier League, Crystal Palace, di Selhurst Park.

Namun kesabaran manajemen bisa saja luntur jika Sunderland terus tertahan di tiga terbawah. Saat ini mereka terpaut dua poin dari zona aman, dan setiap hasil buruk menambah tekanan pada Le Bris. Pertanyaannya, berapa lama klub akan tetap memberi kepercayaan jika tren negatif ini berlanjut?

Perbandingan dengan musim lalu sangat kontras. Ketika menang di Stamford Bridge pada laga kesembilan setelah promosi, Sunderland sempat berada di posisi kedua setelah start yang elektrik. Kini, setelah jumlah pertandingan yang sama, ceritanya berubah total dan klub justru berada di dasar tabel.

Tekanan pada Regis Le Bris

Nedum Onuoha, mantan pemain pinjaman Sunderland, menilai pencapaian musim lalu memang terasa historis karena membawa klub kembali ke Eropa. Namun ia mengingatkan bahwa bahkan saat itu sudah ada keraguan apakah Le Bris adalah sosok yang tepat untuk jangka panjang. Menurutnya, para penggemar yang mungkin masih ragu musim lalu kini makin sulit membayangkan Le Bris bertahan lama.

Pendapat senada datang dari pengamat sepak bola Prancis, Julien Laurens. Ia menilai situasi Sunderland tidak terlihat baik dan belum melihat Le Bris menemukan solusi untuk membalikkan keadaan. Laurens menyebut kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena tekanan biasanya berujung pada posisi pelatih.

Le Bris sendiri telah menangani Sunderland sejak Juli 2024 dan menjadi pelatih dengan masa jabatan terlama sejak Steve Bruce pada Juni 2009-November 2011. Rekam jejak promosi dan tiket Eropa menjadi alasan mengapa ia masih diberi kesempatan. Akan tetapi, dalam sepak bola, hasil buruk sering kali lebih cepat menghapus kredit tersebut.

Bukan Sekadar Sindrom Musim Kedua

Sunderland, yang pada 2022 masih bermain di League One, memang tampil di atas ekspektasi musim lalu. Mereka disebut sebagai salah satu kisah terbaik setelah mengalahkan Chelsea dan Newcastle dua kali serta menahan Arsenal dan Manchester City di kandang. Namun, data menunjukkan keberhasilan seperti itu sulit diulang.

Angka Expected Goals membandingkan kualitas peluang yang diciptakan dengan peluang yang diciptakan lawan. Hanya Burnley dan Wolves yang memiliki selisih Expected Goals lebih rendah daripada Sunderland pada musim tersebut. Selisih yang rendah menjadi sinyal bahwa performa Sunderland tidak selalu berkelanjutan meski hasil akhirnya bagus.

Gagasan tentang “sindrom musim kedua” juga tidak sepenuhnya didukung statistik. Sunderland dan Leeds menjadi tim promosi ke-53 dan ke-54 yang bertahan di Premier League, dan dari 52 tim sebelumnya hanya 11 yang terdegradasi pada musim berikutnya atau sekitar 21 persen. Artinya, sebagian besar tim promosi yang bertahan tidak mengalami kemerosotan drastis hanya karena memasuki musim kedua.

Namun masalah Sunderland musim ini cukup nyata. Dua dari tujuh gol liga mereka berasal dari titik penalti, sementara mereka harus mengakhiri tiga kekalahan dengan sepuluh pemain: Reinildo Mandava saat melawan Arsenal, Kevin Danso melawan Bournemouth, dan Omar Alderete melawan Coventry. Selain itu, Sunderland gagal mencetak gol di babak pertama pada tujuh dari sembilan laga liga.

Onuoha juga menyoroti produktivitas Sunderland yang baru mencetak tujuh gol di liga, dengan tiga di antaranya terjadi dalam satu pertandingan saat kalah 3-5 dari Manchester City. Menurutnya, angka itu berbicara sendiri tentang kesulitan tim. Ia menilai situasi saat ini belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Dampak Europa League dan Jadwal Padat

Bagi banyak pihak, penyebab utama kesulitan Sunderland terlihat jelas: tambahan beban di Eropa. Ini adalah kampanye Eropa pertama mereka sejak 1973, dan mereka setidaknya akan memainkan delapan laga di Europa League. Menariknya, di Eropa Sunderland justru memulai dengan baik, dengan dua kemenangan dan satu hasil imbang dari tiga pertandingan pertama fase liga.

Julien Laurens menilai perjalanan ke Milan akan menjadi pengalaman menyenangkan bagi para penggemar, tetapi bisa menjadi distraksi bagi pemain. Ia menyoroti pemain yang belum pernah bermain di Eropa dan berkurangnya waktu latihan di lapangan. Jadwal Kamis-Minggu, menurutnya, menciptakan dinamika yang sangat berbeda dari musim lalu.

Le Bris menyebut situasi ini sebagai “growing pains” atau fase tumbuh yang menyakitkan. Ia menilai tantangan musim ini mungkin menjadi yang paling berat yang pernah dihadapi Sunderland karena harus bersaing di Premier League, Europa League, perempat final Carabao Cup, dan FA Cup nanti. Meski begitu, ia menegaskan timnya masih kompetitif dan percaya pada level mereka, hanya saja mengulang performa konsisten adalah langkah baru yang harus dilalui.

Bursa Transfer dan Performa Para Pemimpin

Setelah promosi ke Premier League pada musim panas 2025, Sunderland menghabiskan £161 juta untuk 15 pemain baru. Pada periode berikutnya, mereka hanya menginvestasikan £60 juta untuk lima pemain. Perubahan belanja itu masuk akal, tetapi tetap menimbulkan pertanyaan tentang kedalaman dan kualitas skuad untuk menghadapi jadwal ganda.

Di sisi lain, banyak penggemar mungkin senang karena Sunderland mempertahankan kapten berpengalaman Granit Xhaka dan penyerang Brian Brobbey. Brobbey mencetak tujuh gol liga musim lalu sebelum menambah tiga gol untuk Belanda di Piala Dunia, dan ia telah menandatangani kontrak baru hingga 2031. Sayangnya, ia belum mencetak gol sejak kembali dari cedera hamstring, sementara Xhaka terlihat murung setelah kekalahan dari Coventry.

Carl Jenkinson, mantan rekan setim Xhaka di Arsenal, menilai komentar sang gelandang Swiss itu “mengkhawatirkan” karena ia tampak sangat kecewa. Laurens juga menyoroti menurunnya performa Xhaka dan Mukiele, dua pemimpin yang seharusnya menjadi tumpuan. Menurut Laurens, ketika para pemimpin tim jauh di bawah level terbaik, pihak pertama yang biasanya menanggung akibat adalah pelatih.

Apa Artinya bagi Sunderland dan Laga Melawan Chelsea

Dengan tiga perempat musim Premier League masih tersisa, Sunderland masih punya waktu untuk menyelamatkan diri. Namun, mereka tidak bisa terus mengandalkan sisa waktu tanpa perbaikan nyata. Laga melawan Chelsea pada Minggu menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa masalah tim bukanlah sesuatu yang tak bisa diperbaiki.

Sebelum itu, pertandingan melawan Dinamo Zagreb harus dimanfaatkan untuk mengangkat suasana. Sunderland telah kalah dua kali dan bermain imbang satu dari tiga laga Premier League setelah tampil di Eropa, sehingga hasil positif di Eropa perlu diikuti dengan poin domestik. Jika tidak, jeda internasional akan terasa muram bagi klub dan basis penggemar yang bersemangat.

Singkatnya, keterpurukan Sunderland di Premier League bukan disebabkan satu faktor tunggal. Beban Europa League, jadwal padat, menurunnya performa pemimpin tim, dan masalah mental setelah rentetan hasil buruk saling bertumpuk. Le Bris masih memiliki kredit dan waktu, tetapi ia perlu segera menemukan solusi agar Sunderland tidak semakin dalam terperangkap di zona degradasi.

Laga melawan Dinamo Zagreb dan Chelsea akan menjadi penentu arah dalam beberapa pekan ke depan. Jika Sunderland mampu meraih hasil positif, tekanan bisa sedikit mereda dan kepercayaan diri tim kembali tumbuh. Sebaliknya, hasil buruk akan membuat pertanyaan tentang masa depan Le Bris semakin sulit dihindari.

Exit mobile version