Pengeluaran Besar Tottenham Musim Panas Ini
Tottenham Hotspur kembali menjadi sorotan setelah mengeluarkan dana besar di bursa transfer musim panas ini. Klub yang sempat terancam degradasi dalam dua musim terakhir kini menunjukkan ambisi untuk kembali ke jajaran elite Premier League. Mereka tercatat telah menghabiskan sekitar £237 juta untuk membeli pemain baru, angka yang melampaui rekor belanja musim sebelumnya sebesar £235,8 juta pada 2023-24. Bahkan, ada kemungkinan pengeluaran akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan.
Langkah ini bukan sekadar iseng. Para pemilik Tottenham, Enic, bertekad untuk membalikkan keadaan dan membuktikan bahwa klub London Utara ini masih layak disebut sebagai bagian dari ‘big six’. Julukan tersebut tidak hanya muncul karena prestasi di lapangan, tetapi juga karena kemampuan finansial yang setara dengan Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United.
Untuk mewujudkan tekad itu, Tottenham mulai bergerak cepat di bursa transfer. Setelah mendatangkan Jan Paul van Hecke dari Brighton dengan biaya £52 juta, mereka memecahkan rekor transfer klub dengan memboyong Mateus Fernandes dari West Ham yang terdegradasi seharga £85 juta. Tak berhenti di situ, Spurs juga telah sepakat dengan Newcastle untuk mengamankan jasa Sandro Tonali dengan nilai transfer hingga £100 juta.
Apa yang Memicu Perubahan Pendekatan?
Perubahan kebijakan transfer Tottenham ini dimulai sejak September lalu, saat Daniel Levy mengakhiri masa jabatannya sebagai chairman eksekutif setelah hampir 25 tahun. Dalam surat terbuka pada Mei, chairman baru Peter Charrington mengakui bahwa klub menyadari perlunya perubahan besar. “Apa yang telah dimulai adalah nyata, dan ini menandai perpisahan sejati dari masa lalu,” tulisnya. “Kami harus bertarung dengan tim terbaik di liga ini setiap musim, dan kami membangun kembali klub dengan standar itu.”
Investasi group Enic, yang dikelola oleh Lewis Family Trust sebagai pemegang saham mayoritas, langsung merespons dengan menyuntikkan dana segar. Untuk kedua kalinya dalam sepuluh bulan, Enic menginjeksi £100 juta ke klub melalui pembelian saham baru. Struktur kepemimpinan juga dirombak: Vinai Venkatesham menjadi CEO pada April 2025, sementara Johan Lange dipromosikan menjadi co-sporting director bersama Fabio Paratici yang kemudian hengkang pada Januari.
Peran Roberto De Zerbi dalam Rekrutmen
Tottenham awalnya ingin mempertahankan model co-sporting director, dan Sebastien Kehl sempat dekat untuk menggantikan Paratici. Namun, kesepakatan batal, sehingga pelatih kepala Roberto De Zerbi mendapatkan kewenangan lebih besar dalam rekrutmen pemain. De Zerbi, yang diikat kontrak lima tahun pada Maret lalu, berhasil menyelamatkan Tottenham dari degradasi.
Setelah mengalahkan Everton di hari terakhir musim untuk memastikan kelangsungan hidup, mantan pelatih Brighton itu mengisyaratkan perlunya jendela transfer yang sibuk. “Kami hanya punya 10, 11, 12 pemain yang cukup bagus untuk bertahan,” ujarnya. Fernandes menjadi rekrutan kelimanya musim panas ini, setelah kiper Martin Dubravka serta bek Marcos Senesi, Andy Robertson, dan Jan Paul van Hecke.
De Zerbi mengenal baik van Hecke dari masa kerjanya di Brighton. Ia juga sudah lama mengagumi rekan senegaranya, Tonali. Ada dorongan jelas dari pemilik klub untuk merekrut pemain berpengalaman dan berjiwa kepemimpinan. Meski Fernandes baru berusia 21 tahun, baik Lange maupun De Zerbi menonjolkan kecerdasan dan kedewasaannya saat mengumumkan kedatangan sang pemain. Sementara itu, Robertson (32 tahun) telah memenangi semua gelar besar bersama Liverpool dan baru saja menjadi kapten Skotlandia di Piala Dunia, dan Senesi (29 tahun) memiliki pengalaman empat musim di Premier League bersama Bournemouth.
Pengejaran terhadap Fernandes dan Tonali, dua pemain yang juga incaran rival ‘big six’ lainnya, menunjukkan bahwa Tottenham telah menaikkan batas gaji skuad. Di era Levy, batas gaji yang ketat sering menjadi penghalang untuk mendatangkan pemain elite. Kini, sebagai bagian dari model perdagangan baru, klub juga berupaya meningkatkan pendapatan dari penjualan pemain. Contoh nyatanya adalah kepergian bek berusia 19 tahun, Luka Vuskovic, ke Brighton dengan nilai £46 juta. Vuskovic bahkan belum pernah tampil di Premier League karena musim lalu dipinjamkan ke Hamburg di Bundesliga. Penjualan lebih lanjut diperkirakan akan terjadi untuk mendanai perekrutan di sektor lain, terutama lini serang yang masih menjadi prioritas De Zerbi.
Mengapa Tottenham Bisa Terus Belanja? Analisis SCR
Menurut analis keuangan sepak bola Kieran Maguire, Tottenham mampu mengeluarkan dana besar karena aturan baru yang disebut squad-cost ratio (SCR). Di bawah aturan ini, klub diizinkan menghabiskan hingga 85% pendapatan mereka untuk biaya pemain, termasuk gaji, amortisasi transfer, dan biaya agen. Pada laporan keuangan terakhir (2024-25), rasio gaji dan amortisasi Tottenham hanya 61% dari total pendapatan. Angka ini sudah mencakup seluruh staf, bukan hanya pemain. UEFA memperkirakan bahwa sekitar 75% dari total biaya gaji biasanya dialokasikan untuk tim utama.
Selain itu, stadion baru Tottenham yang megah menjadi sumber pendapatan tambahan. Stadion ini kini bisa menggelar hingga 30 acara non-sepak bola per tahun dengan kapasitas penuh. Jika dibandingkan dengan kandang lama di White Hart Lane, pendapatan matchday melonjak dari £45 juta menjadi £126 juta per tahun, sementara pendapatan komersial (termasuk konser dan pertandingan NFL) naik dari £73 juta menjadi £277 juta pada 2024-25. Peningkatan pendapatan ini memungkinkan klub untuk berbelanja lebih banyak sesuai aturan SCR.
Perlu diingat bahwa biaya transfer tidak dibayar sekaligus. Berdasarkan aturan baru, biaya transfer diamortisasi selama masa kontrak pemain, maksimal lima tahun. Jadi, belanja £240 juta musim panas ini hanya menghasilkan beban amortisasi sekitar £48 juta per tahun. Dengan total pendapatan Tottenham mencapai £565 juta pada 2024-25, klub secara teoretis masih bisa menghabiskan hingga £480 juta per tahun untuk skuad mereka tanpa melanggar aturan SCR.
Ini menunjukkan bahwa Tottenham tidak hanya berbelanja besar-besaran, tetapi juga melakukannya dengan landasan finansial yang solid. Strategi ini diharapkan mampu mengembalikan mereka ke papan atas Premier League dan membuktikan bahwa status ‘big six’ bukan sekadar kenangan.
