Ollie Watkins Absen di Brighton, Ini Kata Unai Emery

Author:

Manajer Aston Villa, Unai Emery, akhirnya buka suara soal absennya Ollie Watkins dari skuad saat timnya dihancurkan Brighton 4-0 pada laga pembuka Premier League. Emery menyebut ketidakhadiran striker berusia 30 tahun itu sebagai “pertanyaan untuk dirinya”. Keputusan mengejutkan ini terjadi setelah Emery mengonfirmasi pada awal pekan bahwa ada tawaran dari klub Arab Saudi, Al-Hilal, untuk Watkins.

Absennya Ollie Watkins ini bukan sekadar rotasi pemain, melainkan sinyal kuat bahwa Villa tengah bersiap menghadapi gelombang kepergian para punggawa utamanya. Dengan status Watkins yang masih menjadi pahlawan Eropa Villa musim lalu, kepergiannya akan menjadi pukulan telak bagi skuad asuhan Emery. Situasi ini juga menambah panjang daftar pemain bintang yang hengkang dari Villa Park pada bursa transfer musim panas ini.

Ollie Watkins

Emery: “Pertanyaan Itu untuk Ollie Watkins”

Saat ditanya oleh program Match of the Day apakah meninggalkan Watkins merupakan keputusannya, Emery justru melempar pertanyaan balik. “Pertanyaan ini untuk dia. Kalian bisa meneleponnya dan mencoba mendapatkan jawabannya,” ujar Emery. Sang manajer juga menegaskan bahwa para pemain yang dibawanya ke Brighton adalah mereka yang benar-benar ingin bermain dan siap tempur.

Lebih lanjut, Emery menjelaskan bahwa timnya sempat memiliki dua striker dengan cedera ringan sebelum pertandingan. “Para pemain di sini ingin bermain dan kami punya dua striker dengan cedera kecil. Pertanyaan tentang Watkins adalah untuk dia sendiri,” tambah Emery. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa keputusan final justru berada di tangan sang pemain, bukan sepenuhnya dari pihak klub.

Kapten tim, John McGinn, juga angkat bicara soal situasi yang dialami rekannya tersebut. “Ini situasi yang sulit. Dia adalah pemain luar biasa dan pencetak gol terbanyak klub—tugas saya sebagai kapten adalah mengeluarkan kemampuan terbaik dari semua pemain yang ada di sini hari ini,” kata McGinn kepada Sky Sports. McGinn pun mengaku bangga dengan para pemain yang tampil dan berjuang untuk klub di tengah situasi yang tidak mudah.

Gelombang Kepergian Bintang Villa

Watkins berpotensi menjadi pahlawan Eropa Villa berikutnya yang hengkang pada musim panas ini. Villa baru saja mengakhiri penantian 30 tahun untuk meraih trofi dengan menjuarai Liga Europa pada Mei lalu melawan Freiburg. Namun, kabar buruknya, klub bisa saja kehilangan enam dari sebelas pemain starting XI final Liga Europa tersebut sebelum bursa transfer ditutup.

Kepergian Ezri Konsa ke Arsenal menjadi nama terbaru yang keluar dari Villa Park pada musim panas ini. Sebelumnya, dua pencetak gol di final Istanbul, Youri Tielemans dan Morgan Rogers, sudah lebih dulu pergi bulan lalu. Kepindahan Rogers ke Chelsea dengan nilai £117 juta bahkan memecahkan rekor transfer pemain Inggris termahal.

Lucas Digne juga telah dijual ke Paris St-Germain, sementara Villa harus mencari solusi di posisi penjaga gawang. Emi Martinez tidak masuk skuad pada laga melawan Brighton setelah kepindahannya ke Juventus gagal, dan klub telah merekrut Zion Suzuki sebagai penggantinya. Jika Martinez ikut hengkang, hanya tersisa Matty Cash, Pau Torres, Victor Lindelof, John McGinn, dan Emi Buendia dari sebelas pemain yang tampil di Istanbul.

Mengapa Villa Menjadi Klub Penjual?

Villa, seperti banyak klub lain, menjadi klub penjual terutama karena kebutuhan finansial yang mendesak, dan kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Mereka harus mematuhi rasio biaya skuad (SCR) UEFA yang membatasi pengeluaran hanya 70 persen dari pendapatan terkait sepak bola untuk gaji pemain dan staf, biaya transfer, serta biaya agen. Aturan ini membuat tangan klub terikat dalam bergerak di bursa transfer.

UEFA bahkan telah dua kali mendenda Villa atas pelanggaran aturan tersebut. Klub kena sanksi £9,5 juta tahun lalu dan denda £19,4 juta pada Juni, meskipun £12,9 juta dari denda itu ditangguhkan setelah Villa mencapai kesepakatan penyelesaian dengan UEFA. Selain itu, Aturan Profit dan Keberlanjutan (PSR) Premier League juga membatasi kerugian finansial maksimal £105 juta dalam periode tiga tahun berjalan.

Dalam laporan keuangan terbaru yang berakhir 30 Juni 2025, Villa mencatat laba setelah pajak sebesar £17 juta. Namun, dua tahun sebelumnya mereka membukukan kerugian besar, yakni £119,6 juta pada 2023 dan £85,4 juta pada 2024. Regulasi PSR tersebut kini telah digantikan oleh SCR, yang membuat Premier League sejalan dengan model UEFA.

Catatan Keuangan yang Membelenggu

Seorang mantan eksekutif Villa menyebut semua penjualan ini adalah konsekuensi dari aturan yang ada. “Ini karena kebutuhan akibat aturan. Masalah PSR dan SCR sudah terdokumentasi dengan baik,” ujarnya kepada BBC Sport. Ia juga menilai situasi ini terasa tidak adil karena ambisi klub dibatasi, tetapi hal itu memaksa terjadinya perputaran pemain yang sangat besar.

Musim panas ini menjadi momentum yang mengkristalkan situasi Villa karena tingginya profil para pemain yang pergi. Villa telah mengumpulkan lebih dari £200 juta dari penjualan Jhon Duran (£71 juta), Douglas Luiz (£42,5 juta), Jacob Ramsey (£40 juta), dan Moussa Diaby (£50 juta) dalam dua tahun terakhir. Dengan selesainya transfer Konsa, mereka sudah mengantongi sekitar £212 juta pada bursa kali ini, termasuk £9 juta untuk Lewis Dobbin yang belum pernah tampil di tim senior sebelum dijual ke Southampton.

Akademi Villa juga memberikan kontribusi finansial yang signifikan. Jaden Philogene dan Cameron Archer dibeli kembali hanya untuk dijual lagi, sementara Burnley mengeluarkan £12 juta untuk Aaron Ramsey pada 2023. Ketika pertama kali kembali ke Liga Champions pada 2024, pihak internal Villa sudah menyadari bahwa peluang pemain akademi untuk menembus skuad utama semakin sulit, sehingga mereka lebih terbuka menjual pemain muda.

Dampak bagi Daya Saing Villa

Belanja transfer Villa musim panas lalu hanya mencapai £71 juta, jauh di bawah Manchester City, Chelsea, dan Arsenal yang semuanya di atas £200 juta. Bahkan Wolves, yang finis di dasar klasemen musim lalu, menghabiskan £109 juta. Ini membenarkan argumen Emery bahwa Villa bukan bagian dari klub elite, apalagi ketika mereka menghabiskan waktu berbulan-bulan mengejar Conor Gallagher tetapi akhirnya kalah oleh Tottenham yang bergerak lebih cepat pada Januari.

Kepergian Rogers ke Chelsea dengan nilai £117 juta dinilai sebagai cara termudah bagi Villa untuk mematuhi aturan keuangan UEFA. Rencana ini muncul setelah denda pertama mereka tahun lalu, dan Villa harus mencapai titik impas pada musim 2026-27. Laju ke babak perempat final Liga Champions 2024-25 memberi mereka hampir £70 juta dan menjadi alasan utama mereka berhasil mencetak laba pada laporan keuangan terbaru.

Sementara itu, kemenangan Liga Europa menjamin Villa mendapat sekitar £45,6 juta, termasuk pendapatan minimum untuk lolos ke Liga Champions musim depan. Meski banyak pemain hengkang, optimisme masih tersisa. Kekalahan heroik di Piala Super melawan Paris St-Germain di Salzburg awal bulan ini masih menunjukkan daya saing Villa dan kemampuan adaptasi Emery.

Emery dan Harapan di Tengah Badai

Emery telah menghadapi berbagai cobaan selama tiga setengah tahun menukangi Villa, tetapi ia konsisten meningkatkan performa tim. Ia mengambil alih posisi pelatih ketika Villa berada di peringkat 14 setelah era Steven Gerrard. Di Austria, McGinn menegaskan bahwa Villa masih memiliki Emery sementara klub lain seperti Manchester City, Liverpool, dan Chelsea justru berganti manajer, dan struktur klub tetap utuh.

Villa juga mulai mengarahkan fokus ke pemain muda. Brian Madjo, striker berusia 17 tahun, berhasil didaftarkan setelah Villa memenangkan perselisihan dengan FIFA awal bulan ini. Madjo langsung mencetak gol pada debutnya melawan PSG, delapan bulan setelah bergabung dari Metz dengan nilai £10 juta, dan bisa menjadi kejutan musim ini. Langkah ini sejalan dengan arahan Roberto Olabe yang menggantikan Monchi sebagai presiden operasi sepak bola sejak September lalu.

Joao Gomes, gelandang berusia 25 tahun, justru diusir keluar lapangan pada debut Premier Leaguenya melawan Brighton. Sementara itu, kiper Suzuki (23 tahun) dan bek Matteo Ruggeri (24 tahun) memulai laga dari bangku cadangan. Ketiganya bergabung musim panas ini setelah Johan Manzambi (20 tahun) menjadi pembelian termahal klub pada Juli.

Villa juga masih aktif bergerak di bursa transfer. Mereka sempat mengajukan tawaran £18 juta untuk bek Southampton, Taylor Harwood-Bellis, yang ditolak. Selain itu, klub merekrut Alejandro Garnacho dari Chelsea dengan skema pinjaman yang diwajibkan untuk dipermanenkan, dan Aaron Wan-Bissaka dijadwalkan pindah dari West Ham dengan kesepakatan serupa untuk menyebar biaya.

Kepergian Ollie Watkins tentu akan menjadi kehilangan besar bagi lini serang Villa, tetapi Emery tetap menjadi aset terbesar klub. Ia telah membuktikan kemampuannya membangun ulang tim, dan kali ini akan menjadi salah satu pencapaian terbesarnya jika berhasil. Seperti diungkapkan mantan eksekutif Villa, Emery adalah kartu as yang tersisa dan semua harapan bertumpu pada pengalaman serta pengetahuannya untuk membawa tim melewati masa sulit ini.

Tekanan yang ditanggung Emery memang sangat besar, dan wajar jika muncul spekulasi bahwa ia mungkin ingin pindah ke klub dengan sumber daya lebih besar. Namun, mantan pengurus Villa itu meyakini hal tersebut tidak akan terjadi musim ini. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pada titik tertentu, seorang manajer bisa jenuh menghadapi tuntutan yang terus menumpuk seperti ini.