Nama Morgan Rogers kini tercatat sebagai pemain termahal dalam sejarah Chelsea dengan nilai transfer £117 juta. Namun, tiga tahun sebelum status itu melekat padanya, nilai pemain muda tersebut pernah merosot hingga hanya sekitar £1 juta, dan ia sempat meragukan apakah karier profesionalnya akan bertahan lama. Salah satu titik terendah dalam perjalanannya justru terjadi di Bournemouth — klub yang akan menjamu Chelsea di Stamford Bridge pada Sabtu mendatang.
Bagi banyak orang, perpindahan dari sepak bola akademi ke level senior terlihat seperti proses yang mulus. Kenyataannya tidak demikian bagi Rogers. Ia sendiri mengakui bahwa dirinya harus melewati serangkaian masa peminjaman yang sulit sebelum akhirnya menemukan bentuk permainannya. Dua di antaranya berlangsung di Championship bersama Bournemouth dan Blackpool, ketika statusnya masih sebagai pemain Manchester City. Padahal, sebelum itu ia adalah langganan tim muda Inggris dan salah satu prospek paling bersinar di akademi West Bromwich Albion.

Bournemouth dan Masa Peminjaman yang Tak Berjalan Mulus
Di Bournemouth, Rogers hanya dipercaya menjadi starter dalam tiga pertandingan dan mencetak satu gol di bawah asuhan Scott Parker. Jumlah itu jelas sangat minim bagi pemain yang datang dengan reputasi bagus di level junior. Ironisnya, Bournemouth justru berhasil mengamankan promosi kembali ke Premier League pada musim tersebut, sehingga minimnya kontribusi Rogers semakin terasa sebagai sebuah kegagalan pribadi.
Des Taylor, mantan pemandu bakat yang membawanya ke klub itu, menyebut Rogers sebagai tipe pemain yang berkembang lambat atau slow burner. Menurutnya, kemampuan Rogers sudah terlihat saat ia dipantau di Lincoln City, tetapi belum jelas seperti apa wujud akhir permainannya nanti. Taylor menilai masa peminjaman di Lincoln itulah yang mengubah Rogers dari seorang anak menjadi pemain dewasa, sekaligus membuktikan bahwa ia mampu menghadapi tekanan fisik setelah dibesarkan di akademi Manchester City.
Sayangnya, ada sejumlah faktor di luar kendali Rogers. Taylor mengungkapkan bahwa Bournemouth merekrutnya di penghujung jendela transfer, sehingga proses adaptasi berjalan tidak ideal. Klub memproyeksikannya sebagai pemain nomor 10, sementara Parker tidak benar-benar memakai sosok nomor 10 dalam skema permainannya. Alhasil, ketika Rogers mendapat kesempatan bermain, ia kerap ditempatkan bukan di posisi yang ia inginkan. Taylor menyebutnya sebagai korban masa transisi dan menegaskan bahwa kegagalan itu bukan sepenuhnya kesalahan sang manajer.
Lincoln City dan Momen “Make Me a Marker”
Sebelum mencoba peruntungan di Championship, Rogers lebih dulu menjalani peminjaman pertamanya bersama Lincoln City di League One. Manajer saat itu, Michael Appleton, pernah bekerja di akademi West Brom dan tahu betul bahwa Rogers adalah salah satu prospek paling dihargai di sana. Ia pun menjadikan upaya mendatangkan Rogers ke Sincil Bank sebagai misi pribadinya. Rogers bergabung tak lama setelah lockdown dan menorehkan enam gol serta dua assist dalam 28 penampilan, membawa Lincoln melaju hingga final play-off yang akhirnya mereka lepaskan kepada Blackpool.
Appleton mengenang satu momen yang menurutnya menggambarkan sosok Rogers dengan sangat jelas. Saat bertandang ke markas Portsmouth, tim lawan memiliki tiga atau empat pemain bertubuh sangat besar. Ketika tim sedang mengatur strategi bola mati dan kehabisan pemain untuk mengawal para pemain jangkung itu, Rogers tanpa ragu menawarkan diri. Ia meminta dijadikan penjaga orang dan berjanji akan menyundul bola keluar dari kotak penalti. Padahal, saat itu ia baru seorang remaja yang menjalani peminjaman pertamanya.
Bagi Appleton, keberanian itu menunjukkan bahwa Rogers tidak hanya percaya diri karena sedang bermain baik, tetapi juga serius menjalankan tugas bertahan seperti halnya berusaha mengancam kotak penalti lawan. Appleton juga mengingat Rogers sebagai pribadi dengan kepribadian besar yang berani angkat bicara dalam rapat tim meski usianya baru 18 tahun. Pengalaman di Lincoln inilah yang kemudian menjadi bekal berharga ketika ia melangkah ke level yang lebih tinggi.
Nilai Anjlok ke £1 Juta dan Bayang-bayang Cole Palmer
Setelah masa sulit di Bournemouth, peminjaman Rogers dipotong dan ia kembali ke sepak bola akademi. Sebuah cedera kemudian menunda kepindahannya ke Blackpool hingga Januari tahun berikutnya. Di klub tersebut ia kembali bertemu Appleton di Championship, tetapi kebersamaan itu hanya bertahan dua pekan karena Appleton dipecat dan digantikan Mick McCarthy. Rogers mencatatkan 20 penampilan sebagai starter maupun pengganti dengan satu gol, sementara Blackpool harus terdegradasi ke League One setelah menunjuk manajer ketiga pada April.
Appleton mengaku situasi itu tidak menguntungkan bagi siapa pun. Ia mengungkapkan bahwa Rogers sudah bersabar, dan ia pun bersabar selama proses pemulihan cedera musim panas sang pemain, sampai keduanya akhirnya bisa bekerja sama lagi. Namun tak lama kemudian ia harus meninggalkan klub, dan Rogers tidak lagi mendapat menit bermain sebanyak yang ia inginkan. Meski begitu, Appleton menilai Rogers menangani situasi itu secara profesional dan dengan cara yang tepat.
Rogers sendiri menyebut periode tersebut sebagai masa yang berat. Ia berusaha untuk tidak membandingkan dirinya dengan mantan rekan setim yang lebih dulu melesat dan mendapat kesempatan lebih cepat. Ia bahkan sempat meragukan apakah dirinya akan berhasil di sepak bola profesional, dan hanya keluarga serta teman-temannya yang membuatnya tetap membumi. Saat itu, sahabat terdekatnya di dunia sepak bola, Cole Palmer, hijrah ke Chelsea dengan nilai £42,5 juta tanpa perlu menjalani masa peminjaman untuk menembus tim utama Manchester City. Di waktu yang hampir bersamaan, Rogers justru bergabung ke Middlesbrough dengan banderol hanya £1 juta.
Dari seluruh pengalaman pahit itu, Rogers menyimpulkan satu hal penting: ia tidak perlu ambil pusing dengan penilaian orang lain, karena yang bisa ia kendalikan hanyalah kerja kerasnya sendiri. Ia mengaku butuh tantangan baru yang memaksanya keluar dari zona nyaman agar bisa menemukan jati diri sebagai pesepak bola profesional. Menurutnya, pemain akademi yang dulu dan pemain yang sekarang adalah dua sosok yang benar-benar berbeda.
Dari Middlesbrough ke Rekor £117 Juta Chelsea
Titik balik terjadi di Middlesbrough. Rentetan lima gol dan tiga assist sepanjang enam pertandingan yang membawa klub itu ke semifinal Carabao Cup menarik perhatian Aston Villa, tempat beberapa mantan pelatih Rogers di West Brom bekerja pada peran akademi senior. Villa pun melayangkan langkah awal senilai £8 juta pada jendela transfer musim dingin. Pada saat itu, Palmer sudah lebih dulu menembus skuad timnas Inggris berkat gol dan assist rutinnya bersama Chelsea.
Perjalanan nilai transfer Rogers pun menjadi gambaran yang kontras: dari prospek senilai £9 juta, turun menjadi taruhan £1 juta, lalu melesat menjadi pemain rekor Chelsea dengan £117 juta.
- £1 juta — kepindahan ke Middlesbrough
- £8 juta — langkah awal Aston Villa pada jendela musim dingin
- £117 juta — transfer ke Chelsea sebagai pemain termahal dalam sejarah klub
Bagi Appleton, kisah Rogers adalah contoh nyata bahwa karier sepak bola tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Mantan rekan setimnya di Bournemouth, Steve Cook, menambahkan bahwa klub itu sebenarnya punya peluang merekrutnya secara permanen dengan nilai yang dilaporkan mencapai £9 juta, tetapi kesepakatan itu tidak terwujud. Menurut Cook, Rogers tidak membiarkan kegagalan tersebut menghentikan langkahnya karena ia adalah pribadi yang menyenangkan dan energik di luar lapangan, dan karakter itulah yang mengantarkannya ke posisi sekarang.
Cook menilai Rogers sebagai bukti bahwa tidak setiap perjalanan pemain berjalan mulus. Kemunduran dibutuhkan untuk membuat seseorang lapar dan lebih menghargai apa yang dimilikinya. Rogers disebut selalu bekerja keras, mau mendengarkan, memiliki keinginan kuat untuk belajar, dan termotivasi membuktikan bahwa penilaian orang terhadapnya salah. Kombinasi sikap itulah yang akhirnya membawanya ke level tertinggi.
Makna Laga Chelsea vs Bournemouth
Laga melawan Bournemouth di Stamford Bridge pada Sabtu mendatang punya makna tersendiri bagi Rogers. Klub yang pernah hampir menghentikan langkahnya kini harus menghadapinya sebagai pemain termahal Chelsea. Situasi ini semacam penutup lingkaran bagi perjalanan yang penuh liku, sekaligus pengingat bahwa penilaian awal terhadap seorang pemain muda tidak selalu akurat.
Kisah Rogers juga mencerminkan tren yang lebih luas di sepak bola modern, di mana pemain-pemain terbaik tidak selalu lahir dari jalur yang rapi. Ada yang harus dipinjamkan berkali-kali, turun kasta, bahkan kehilangan tempat di skema pelatih sebelum menemukan momentumnya. Kesabaran klub, pemilihan waktu peminjaman, dan kesesuaian posisi menjadi faktor yang sama pentingnya dengan bakat mentah.
Jika melihat rekam jejaknya, kegagalan di Bournemouth justru menjadi bagian dari proses yang membentuk Rogers hari ini. Pengalaman pahit itu mengajarkannya menghadapi tekanan, menyesuaikan diri dengan tuntutan fisik, dan tetap fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan.
Pada akhirnya, perjalanan Morgan Rogers dari prospek £9 juta, taruhan £1 juta, hingga pemain rekor £117 juta di Chelsea menunjukkan bahwa kemunduran di awal karier bukanlah akhir segalanya. Bournemouth mungkin tidak melihat potensi penuhnya saat itu, tetapi mereka menjadi salah satu babak penting yang membuatnya sampai di titik sekarang. Sabtu nanti, saat keduanya bertemu di Stamford Bridge, penonton akan melihat bukti hidup bahwa sebagian pesepak bola terbaik memang harus melewati masa-masa sulit lebih dulu sebelum bersinar.