Krisis Motherwell menjadi salah satu kisah paling mengejutkan di Scottish Premiership musim ini. Setahun lalu, Chris Sutton menyebut mereka sebagai “tim terbaik yang saya lihat musim ini, baik di utara maupun selatan perbatasan”. Kini, klub asal Fir Park itu baru saja menelan enam kekalahan beruntun di liga, rentetan terburuk mereka sejak Terry Butcher masih menangani tim 23 tahun silam.
Perubahan drastis itu terjadi hanya dalam hitungan bulan. Musim lalu Motherwell finis di peringkat keempat dan sempat disebut sebagai kandidat juara dari luar lingkaran favorit sebelum kompetisi dipecah ke babak championship. Sekarang, di bawah pelatih baru Alfred Johansson, mereka hanya berjarak satu poin dari dasar klasemen dan sudah tersingkir dari Piala Liga oleh Stenhousemuir. Pertanyaannya bukan lagi apakah performa mereka menurun, melainkan seberapa besar penurunan itu disebabkan oleh kehilangan pemain dan seberapa besar karena faktor lain.
Dari Pujian Chris Sutton ke Rentetan Terburuk dalam 23 Tahun
Musim lalu, sepak bola yang diusung Motherwell di bawah Jens Berthel Askou benar-benar memikat. Permainan mereka mengalir, sulit ditebak, dan terasa berbeda dari tim-tim lain di Skotlandia. Sutton sampai memakai diksi yang berlebihan untuk menggambarkannya, sesuatu yang mungkin terdengar mengada-ada bila diucapkan untuk klub lain, tetapi saat itu terasa masuk akal.
Bukti-buktinya nyata. Pada periode akhir tahun, Motherwell membongkar tim asuhan Wilfried Nancy, Celtic, dengan cara yang jarang dilakukan tim Skotlandia lain. Rangers juga dikalahkan di Ibrox, St Mirren dihancurkan di Paisley, dan banyak tim lain kesulitan menghentikan aliran bola mereka. Hasil akhirnya adalah posisi keempat, meski jauh sebelum liga dipecah mereka sempat diperbincangkan sebagai penantang gelar dari luar grup favorit.
Sekarang kondisinya berbalik total. Enam kekalahan beruntun di liga membuat mereka terpuruk di papan bawah, dan tersingkirnya mereka dari Piala Liga di markas Stenhousemuir menambah tekanan. Bagi klub sebesar Motherwell, kombinasi hasil buruk di dua kompetisi sekaligus adalah sinyal bahaya yang sulit diabaikan.
Kehilangan Sang Arsitek dan Empat Pilar Utama
Akar persoalan paling jelas ada pada perpindahan orang. Askou hengkang ke Toulouse, membawa serta gagasan permainan yang sudah tertanam di kepala para pemain. Bersamaan dengan itu, empat tokoh sentral meninggalkan klub pada bursa transfer musim panas dan mendatangkan pemasukan besar, tetapi menyisakan lubang yang sangat lebar di dalam skuad yang justru sedang bersiap tampil di kompetisi Eropa.
Elijah Just adalah nama yang paling sering disebut. Pemain asal Selandia Baru yang semula tidak dikenal itu tumbuh menjadi jantung tim, menghubungkan lini, dan melewati lawan seolah mereka tidak berada di lapangan. Ia ditopang Stephen Welsh, yang kemudian bersinar bersama tim nasional Skotlandia, plus Elliot Watt dan Callum Slattery. Kepergian keempatnya sekaligus membuat Motherwell kehilangan tulang punggung, bukan sekadar pemain pelapis.
Mantan gelandang Celtic dan Hibernian, Scott Allan, menilai hilangnya agresivitas tanpa bola sebagai efek langsung dari perubahan personel tersebut. Menurutnya, banyak orang terlalu fokus pada gaya bermain dengan bola, padahal justru agresivitas dalam merebut kembali bola itulah yang membuat Motherwell sulit dikalahkan. Ketika kemampuan itu hilang, tim jadi lebih terbuka, apalagi dengan kepergian pemain sekualitas Just.
Apa Sebenarnya Akar Krisis Motherwell? Ini Kata Statistik
Menariknya, angka-angka menyerang justru tidak sepenuhnya mendukung kesan bahwa Motherwell tumpul. Musim ini mereka mencetak rata-rata 1,1 gol per pertandingan, turun dari 1,55 musim lalu. Namun, expected goals (xG) mereka naik dari 1,48 menjadi 1,6, dengan rata-rata tembakan tepat sasaran bertambah satu menjadi 14,5 per laga. Sentuhan di kotak penalti dan peluang besar praktis sama seperti tahun lalu, bahkan umpan sukses yang berujung di sepertiga akhir lapangan sedikit meningkat.
Artinya, peluang tetap tercipta, tetapi penyelesaiannya jauh lebih boros. Musim lalu Motherwell sangat efisien mengonversi peluang menjadi gol, sementara sekarang tidak. Inilah yang membuat perbedaan di papan skor terasa lebih besar daripada perbedaan dalam kualitas permainan itu sendiri.
Allan menyoroti hilangnya konektivitas antarpemain sebagai penyebab utamanya. Musim lalu, Motherwell membangun serangan dengan sabar, menjaga jarak antarpemain tetap rapat, memancing lawan ke satu sisi lapangan, lalu memindahkan bola dengan cepat. Pola itu membuat mereka sulit dihadapi sekaligus membuat posisi lawan berantakan saat kehilangan bola. Kini, menurut Allan, keterhubungan itu tidak lagi terjalin dengan rapi.
Masalah Sesungguhnya Ada di Lini Belakang
Jika ada satu area yang paling jelas merosot, itu adalah pertahanan. Berdasarkan data Opta, rata-rata gol yang kebobolan hampir dua kali lipat, dari 0,95 menjadi 1,8 per pertandingan. Expected goals against mereka pun melonjak dari 1,24 ke 1,76, sementara jumlah tembakan yang harus dihadapi bertambah sekitar lima per laga dan persentase duel yang dimenangkan turun hampir 5%.
Faktor terbesarnya adalah absennya Welsh di jantung pertahanan. Motherwell juga kehilangan kapten klub Paul McGinn, dan harus menyesuaikan diri dengan kiper baru setelah Calum Ward pindah ke QPR. Tiga perubahan di area yang paling membutuhkan stabilitas tentu bukan hal sepele, apalagi ketika skuad sedang diterpa badai cedera.
Di sisi lain, cara mereka membangun serangan juga berubah. Umpan terobosan dari lini belakang yang dulu menjadi senjata untuk memecah tekanan lawan kini digantikan pendekatan yang lebih pragmatis dan sabar. Cedera yang datang silih berganti membuat pelatih sulit mempertahankan susunan pemain yang konsisten, padahal kohesi seperti musim lalu hanya bisa dibangun lewat kebiasaan bermain bersama.
Badai Sempurna dan Peluang Bangkit
Alih-alih satu penyebab tunggal, Motherwell sebenarnya sedang diterjang kombinasi faktor sekaligus: pemain baru yang belum menyatu, pemain inti yang cedera, pelatih baru dengan ide berbeda, kepercayaan diri yang menipis, serta bayang-bayang musim lalu yang nyaris mustahil diulang. Dalam konteks sepak bola, situasi semacam ini sering disebut sebagai badai sempurna karena semua masalah datang berbarengan.
Namun, bukan berarti tidak ada tanda-tanda perbaikan. Beberapa bulan lalu, Motherwell sempat membuat finalis Liga Europa, Freiburg, ketar-ketir dalam dua pertemuan. Awal musim mereka di Eropa juga menjanjikan, dan kemenangan liga pertama di Easter Road di bawah Johansson menunjukkan bahwa fondasi tim sebenarnya belum runtuh sepenuhnya.
Allan menilai Motherwell tidak sedang bermain buruk di semua sektor. Menurutnya, masih ada jejak performa yang bisa dijadikan modal untuk berbalik, dan kadang yang dibutuhkan hanyalah satu kemenangan kikuk 1-0 untuk memulihkan keyakinan. Ia menegaskan bahwa persoalannya lebih pada dua kotak penalti: peluang yang gagal dimaksimalkan dan gol yang terlalu mudah kebobolan. Setelah laga di markas St Johnstone, Motherwell akan menjamu St Mirren, dua kesempatan yang bisa menentukan arah musim mereka.
Kesimpulan
Krisis Motherwell bukan sekadar soal enam kekalahan beruntun, melainkan soal sebuah tim yang kehilangan arsitek permainan, empat pilar utama, dan stabilitas skuad dalam waktu yang hampir bersamaan. Statistik menunjukkan bahwa masalah terbesar bukan pada kemampuan menciptakan peluang, melainkan pada efisiensi penyelesaian akhir dan rapuhnya lini belakang yang kehilangan tokoh-tokoh kuncinya.
Dengan materi yang masih menyisakan kualitas dan jadwal yang memungkinkan mereka bangkit, peluang untuk keluar dari tekanan masih terbuka. Yang dibutuhkan Motherwell sekarang bukan pengulangan gaya musim lalu, melainkan versi permainan yang lebih realistis, disiplin di kedua kotak penalti, dan satu hasil positif untuk memulai lagi.
