Kabar terbaru seputar investasi Liverpool kembali mencuri perhatian publik setelah nama Jeff Bezos, pendiri Amazon, muncul sebagai calon investor potensial. Berita ini muncul hanya sehari setelah konsorsium yang dipimpin pengusaha India-Inggris, Amit Bhatia, menyatakan minatnya untuk membeli saham minoritas di klub Premier League tersebut. Jika biasanya perhatian suporter tertuju pada bursa transfer menjelang musim baru, kali ini perbincangan soal kepemilikan klub justru menjadi topik utama.
Fenway Sports Group (FSG), pemilik Liverpool sejak 2010, mengonfirmasi bahwa Bhatia tengah menjajaki kemungkinan akuisisi saham strategis dalam jumlah minoritas. Langkah ini memicu spekulasi tentang arah masa depan klub, terutama setelah Bhatia melepas sahamnya di Queens Park Rangers pada Selasa lalu. Keputusan itu diyakini membuka jalan baginya untuk memimpin konsorsium yang dikabarkan ingin membeli sekitar 30% saham Liverpool. Kini, laporan baru menyebutkan bahwa Jeff Bezos telah didekati untuk bergabung dalam konsorsium tersebut, meskipun sumber di dekat Bhatia enggan berkomentar.
Latar Belakang Jeff Bezos: Miliarder yang Jauh dari Dunia Olahraga
Jeff Bezos, pendiri raksasa e-commerce Amazon, saat ini menempati posisi keempat orang terkaya di dunia dengan kekayaan bersih sekitar $256,9 miliar (Rp 4.000 triliun) menurut Forbes. Pria berusia 62 tahun ini mundur dari jabatan CEO Amazon pada 2021, namun masih memiliki 8% saham perusahaan. Selain Amazon, ia juga memiliki surat kabar The Washington Post dan perusahaan antariksa Blue Origin.

Meskipun belum pernah berinvestasi di olahraga secara langsung, Bezos beberapa kali nyaris melakukannya. Pada 2023, ia dikaitkan dengan rencana akuisisi franchise NFL Washington Commanders, dan sebelumnya juga sempat menjajaki pembelian Seattle Seahawks, juara Super Bowl. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk tidak mengajukan tawaran untuk kedua tim tersebut. Kini, apakah dunia sepak bola Premier League akan menjadi ladang investasi barunya? Pertanyaan ini masih menggantung.
Mengapa FSG Mencari Investasi Baru dan Apa Artinya bagi Liverpool?
Pada 2023, FSG menjual sejumlah kecil saham minoritas kepada Dynasty Equity, sebuah perusahaan investasi olahraga global. Hasil penjualan itu digunakan untuk menutup kerugian pendapatan selama pandemi dan membayar utang proyek seperti pusat pelatihan di Kirkby serta perluasan Anfield Road. Namun, kali ini situasinya berbeda. Secara finansial, Liverpool berada dalam posisi kuat. Pada Februari lalu, klub mengumumkan pendapatan rekor lebih dari £700 juta dan menempati posisi tertinggi di antara klub Premier League dalam Deloitte Football Money League.
Langkah FSG mencari investor baru memunculkan tanda tanya besar tentang masa panjang kepemilikan mereka. Sejak membeli Liverpool seharga £300 juta pada 2010, FSG telah menyaksikan klub memenangkan hampir semua trofi bergengsi: dua gelar Premier League, Liga Champions, Piala FA, Piala Liga, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Mereka juga telah memodernisasi stadion dan pusat pelatihan. Menurut Financial Times, kesepakatan dengan konsorsium Bhatia akan menilai Liverpool sekitar £4,5 miliar. Ini mungkin menandakan bahwa FSG merasa klub berada di puncak dan mulai mempertimbangkan untuk mundur secara bertahap.
Selain itu, masa depan Liverpool tengah diliputi ketidakpastian di luar lapangan. Pelatih baru Andoni Iraola baru saja tiba, sementara Michael Edwards mengundurkan diri sebagai CEO sepak bola FSG karena perbedaan visi tentang investasi di klub lain. Direktur olahraga Richard Hughes juga santer dikaitkan dengan pindah ke Al Hilal di Arab Saudi. Di tengah situasi ini, investasi Liverpool dari pihak eksternal bisa menjadi katalis perubahan besar.
Apa Kata Suporter Liverpool?
Para pendukung Liverpool masih diliputi banyak pertanyaan daripada jawaban. FSG selama ini dikenal sebagai pemilik yang stabil dan dapat diandalkan, membawa kesuksesan berkelanjutan. Namun, kehadiran investor baru—apalagi dari luar dunia olahraga—selalu memicu keingintahuan.
Neil Atkinson, CEO The Anfield Wrap, menekankan perlunya sikap kritis. “Pertanyaan harus diajukan setiap kali ada orang yang tertarik membayar mahal untuk keterlibatan di klub Premier League,” ujarnya kepada BBC Sport. Ia menyoroti motif para miliarder tersebut: “Apa untungnya bagi mereka, ketika omset tahunan Liverpool—bukan laba, yang jarang terjadi—hanya setetes air bagi kekayaan mereka? Mungkin kepemilikan saham di beberapa klub olahraga global dianggap lebih bernilai bagi keluarga Mittal dibandingkan kemitraan biasa. Namun, selama semua orang terus bertanya ‘mengapa’ dengan harga yang begitu tinggi, kita mungkin akan semakin paham motifnya nanti.”
Pertanyaan terbesar adalah apakah langkah ini merupakan strategi jangka panjang menuju penjualan penuh klub. Hampir empat tahun setelah FSG menjajaki kemungkinan menjual Liverpool, spekulasi tetap mengemuka. Apakah konsorsium Bhatia dengan potensi keterlibatan Bezos akan membawa era baru bagi The Reds? Ataukah ini hanya langkah awal menuju perubahan kepemilikan total? Waktu yang akan menjawab.
Kesimpulan
Cerita investasi Liverpool kali ini bukan sekadar gosip bursa transfer. Nama besar seperti Jeff Bezos menambah bobot spekulasi, namun belum ada kepastian. FSG tampak membuka pintu untuk mitra strategis, sementara suporter menanti kejelasan. Apapun hasilnya, perkembangan ini akan memengaruhi masa depan klub di dalam dan luar lapangan. Yang pasti, dunia sepak bola akan terus mengawaki langkah selanjutnya dari Anfield.