Istilah “Segitiga Bermuda Premier League” tengah ramai dibicarakan di media sosial sebagai julukan bagi tiga klub yang dianggap menjadi tempat hilangnya poin tim-tim besar. Julukan itu merujuk pada Brighton, Bournemouth, dan Brentford, yang dikenal mampu merebut poin dari tradisional Big Six, yakni Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham. Teori yang dibicarakan secara setengah bercanda ini pun kian populer berkat hasil-hasil terbaru.
Pada Jumat malam, Brentford menaklukkan Chelsea dengan skor 3-0. Kurang dari 24 jam kemudian, Brighton tampil superior dan mengalahkan juara Arsenal dengan skor yang sama, kemenangan yang sebenarnya bisa lebih telak andai David Raya tidak melakukan beberapa penyelamatan cerdas. Sementara itu, Bournemouth memberi perlawanan sengit sebelum kalah 1-0 dari Liverpool, laga di mana Alisson dipaksa melakukan penyelamatan pemulihan brilian untuk menggagalkan peluang pembuka The Cherries.

Apa Itu Segitiga Bermuda Premier League?
Menurut meme yang beredar, segitiga Bermuda Premier League adalah tempat di mana poin hilang dan tidak pernah terlihat lagi. Konsepnya sederhana: tarik garis dari Brighton ke Bournemouth, lanjut ke Brentford, lalu kembali ke Brighton, dan terbentuklah “segitiga” versi Premier League. Ketiga klub itu dianggap punya reputasi khusus karena sering merebut poin dari tim-tim besar.
Reputasi tersebut tidak muncul dalam semalam. Hasil seperti kemenangan Brentford atas Chelsea dan Brighton atas Arsenal, ditambah perlawanan Bournemouth terhadap Liverpool, adalah jenis performa yang melekat di ingatan para pendukung. Performa semacam itu juga menjelaskan mengapa narasi segitiga Bermuda begitu mudah diterima dan menyebar di media sosial.
Meski begitu, pertanyaan sebenarnya bukan sekadar apakah momen-momen itu nyata, melainkan apakah ada pola statistik yang benar-benar mendukungnya. Untuk menjawabnya, perlu dilihat catatan ketiga klub melawan Big Six dalam beberapa musim terakhir. Dari sana terlihat apakah teori ini berdiri di atas data atau hanya di atas kesan.
Benarkah Data Mendukung Teori Ini?
Pertanyaannya, apakah data benar-benar mendukung meme tersebut? Jawabannya, sampai batas tertentu, iya. Sejak awal musim 2024-25, Brighton menjadi tim non-Big Six dengan performa terbaik melawan Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Spurs.
Brighton mengumpulkan 42 poin dari 26 pertandingan, atau rata-rata 1,62 poin per laga. Bournemouth tidak jauh tertinggal dengan raihan 35 poin dari 26 pertandingan, yang setara 1,35 poin per pertandingan. Sementara itu, Brentford hanya mengumpulkan 22 poin dari 26 laga, dengan rata-rata 0,85 poin per pertandingan.
Catatan itu membuat posisi Brentford berbeda dari dua klub lain yang sering dianggap satu paket. Beberapa klub non-Big Six lain justru tampil lebih baik dari The Bees melawan tim-tim besar pada periode yang sama. Berikut rinciannya:
- Newcastle: 1,46 poin per pertandingan
- Nottingham Forest: 1,46 poin per pertandingan
- Aston Villa: 1,38 poin per pertandingan
Dengan kata lain, tiga klub yang paling sering disatukan oleh meme tersebut sebenarnya menghasilkan tingkat keberhasilan yang sangat berbeda melawan tim-tim elite. Brighton dan Bournemouth secara konsisten merebut poin dari tim-tim raksasa Premier League, sementara catatan Brentford jauh lebih kurang meyakinkan. Perbedaan ini penting karena menunjukkan bahwa teori segitiga Bermuda tidak menggambarkan ketiga klub secara setara.
Brighton Jadi Alasan Utama Popularitas Teori
Data justru menunjukkan bahwa Brighton di bawah asuhan Fabian Hurzeler adalah alasan utama teori ini mendapat perhatian sebesar sekarang. Catatan The Seagulls melawan tradisional Big Six tidak hanya mengesankan untuk ukuran modern, tetapi menurut Opta termasuk salah satu yang terbaik yang pernah dihasilkan klub non-Big Six di era Premier League. Performa konsisten inilah yang membuat narasi segitiga Bermuda terasa begitu kuat.
Selain itu, hanya Kenny Dalglish saat menangani Blackburn yang mencatatkan rata-rata poin per pertandingan lebih baik di antara pelatih klub non-Big Six yang setidaknya sudah menghadapi tim-tim raksasa tersebut dalam 10 pertandingan Premier League. Capaian itu menegaskan bahwa performa Brighton berada di level yang jarang diraih klub-klub di luar kelompok elite. Artinya, jika ada satu tim yang paling bertanggung jawab menghidupkan teori ini, tim itu adalah Brighton.
Mengapa Teori Ini Begitu Melekat?
Popularitas ide segitiga Bermuda ini mungkin lebih banyak berbicara tentang persepsi daripada sekadar hasil. Dalam hal rekrutmen dan pengeluaran, Bournemouth, Brighton, dan Brentford beroperasi di dunia yang berbeda dari klub-klub terbesar Premier League. Mereka tidak bisa sekadar mengalahkan Arsenal, Liverpool, atau Manchester City dalam hal belanja pemain.
Hal itu membuat kemenangan mereka lebih mudah diingat dibandingkan hasil-hasil lain. Kemenangan kejutan juga cenderung bertahan lama di ingatan karena cocok dengan cerita yang akrab, yakni klub-klub yang dikelola dengan baik mampu mengalahkan lawan dengan sumber daya jauh lebih besar. Karena itulah meme ini terasa relevan meski datanya tidak selalu seragam.
Brentford dan Sisi Lain Narasi
Meski begitu, meme ini tidak sepenuhnya tanpa dasar, walau buktinya jauh lebih kuat untuk Brighton dan Bournemouth dibandingkan Brentford. Serangkaian kemenangan menarik di bawah Thomas Frank dan kini Keith Andrews tetap membantu memperkuat reputasi Brentford sebagai lawan yang sulit bagi klub-klub elite. Jadi, reputasi itu tidak bisa diabaikan begitu saja meski angkanya tidak sekuat dua klub lain.
Awal musim ini turut mendukung hal itu, dengan kemenangan atas Chelsea menambah catatan setelah mereka menghancurkan Spurs 3-0 pada hari pembukaan. Namun, angka-angka tidak mendukung fenomena tiga klub secara sejelas yang mungkin digambarkan media sosial. Jika memang ada segitiga Bermuda Premier League, Brighton berada tepat di pusatnya.
Kesimpulan
Dari data yang ada, kesimpulannya cukup jelas: teori segitiga Bermuda Premier League menyimpan sebagian kebenaran, tetapi bukti terkuat justru mengarah pada satu klub yang menonjol, bukan tiga klub yang setara. Brighton menjadi pusatnya, Bournemouth memberikan dukungan kuat, sementara Brentford menyumbang momen-momen yang membuat teori ini terus hidup. Singkatnya, meme ini lebih banyak berbicara tentang kehebatan Brighton daripada tentang sebuah segitiga yang benar-benar mapan.